Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PETERNAKAN AYAM: Pasokan Induk Berlebih, Kementan Sarankan Diekspor

Kementerian Pertanian menilai pemusnahan kelebihan stok induk ayam dengan dimusnahkan bukan cara yang tepat, semestinya diekspor
Dini Hariyanti
Dini Hariyanti - Bisnis.com 07 Oktober 2015  |  08:54 WIB
Peternakan unggas - disnak.jabarprov.go.id
Peternakan unggas - disnak.jabarprov.go.id

Bisnis.com, TANGERANG— Kementerian Pertanian menilai pemusnahan kelebihan stok induk ayam dengan dimusnahkan bukan cara yang tepat, semestinya diekspor.

“Menurut saya (dimusnahkan) itu cara yang tradisional, yang benar ya diekspor ke luar negeri,” ucap Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan Muladno, di Tangerang, Rabu (7/10/2015).

Pada bulan lalu terdapat 12 perusahaan integrasi unggas mengaku siap memusnahkan enam juta induk ayam atau parent stock (PS). Tindakan ini diklaim sebagai bentuk komitmen mengendalikan pasokan ayam dalam negeri.

Belasan perusahaan yang dimaksud di antaranya PT Charoen Phokphand Indonesia (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia, PT Winokoyo Jaya Corp, PT Malindo, PT Satwa Borneo, PT Cibadak Indah Sari, PT Reza Perkasa, PT Expravet Nasuba, PT CI-PIA, dan PT Hybro Indonesia.

Guna mengendalikan kelebihan produksi indukan ayam tersebut pengusaha diminta lebih cermat memperhitungkan jumlah suplai dan permintaan. Sejalan dengan ini pemerintah siap untuk membuka maupun menutup keran impor bibitnya.

“Dikala suplai terlalu banyak maka saya setop impor bibitnya, saat kurang akan dibuka,” ucap Muladno.

Permasalahan tentang kelebihan pasokan ayam bukan perkara baru di dalam negeri. Kini pasokan unggas berlebih sekitar 30% dengan pasokan ayam broiler nasional mencapai 64 juta ekor per minggu. Adapun daya serap pasar per minggu hanya 47 juta ekor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ayam
Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top