Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Makin Meluas, Bisnis Bubuk Minuman Belum Jenuh

Prospek usaha bubuk minuman masih cerah seiring dengan tumbuhnya bisnis usaha minuman bubble, cincau, maupun tempat nongkrong yang menyajikan minuman seperti kafe ataupun restoran.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 09 Juni 2015  |  19:16 WIB
Cherry Bubble Drink.  - cherry
Cherry Bubble Drink. - cherry

Bisnis.com, JAKARTA – Prospek usaha bubuk minuman masih cerah seiring dengan tumbuhnya bisnis usaha minuman bubble, cincau, maupun tempat nongkrong yang menyajikan minuman seperti kafe ataupun restoran.

Pemilik Jakarta Bubble Drink, Ikhwan Maulana, menyatakan pasar konsumen bubuk minuman juga semakin meluas karena produknya digunakan pelaku usaha bakery sebagai perasa untuk kue mereka.

“Banyak juga pemain di cake, bakery dan puding yang pakai powder kami untuk bahan perasa. Bahkan ada yang sering ambil produk green tea untuk usaha kue cubit green tea yang saat ini sedang tren. Awalnya kami hanya buat produk ini untuk minuman tetapi sekarang pasarnya menjadi berkembang,” kata dia kepada Bisnis.

Ikhwan menuturkan saat ini persaingan di bidang produksi bubuk minuman sudah semakin ketat. Pasalnya banyak pelaku usaha yang bermain di bidang yang sama. Akan tetapi, pasar tersebut masih belum jenuh.

Terbukti, performa bisnisnya selama ini menunjukkan tren peningkatan. Jakarta Bubble Drink memproduksi sekitar 300 kilogram bubuk minuman setiap hari yang dijual dengan harga Rp65.000 per kilogram.

Dalam sebulannya terjual empat hingga lima ton dengan omzet Rp325 juta. “Margin labanya sekitar 20%,” katanya.

Jakarta Bubble Drink oleh Ikhwan Maulana bersama empat saudaranya yakni Ulil Amri, Muhammad Iqbal, Muhammad Arvian, Agam Rafsanjani. Cikal bakal Jakarta Bubble Drink yang berpusat di Pondok Indah ini berawal dari usaha minuman bubble yang dirintis pada 2011.

Modal usaha yang diperlukan saat itu berkisar Rp10 juta – Rp15 juta. “Kami lihat yang ada itu masih yang pakai konsep di mal, sementara segmen pasar yang di luar mal belum banyak pemainnya. Jadi kami bikin brand Lup Lup Bubble Drink yang dikembangkan dengan sistem franchise,” kata Ikhwan.

Pria 31 tahun ini menyatakan, peluang bisnis sebagai produsen bubuk minuman mulai terendus karena beberapa pemilik kafe dan restoran ingin kerja sama, tetapi sebatas mengambil bahan baku tanpa menggunakan merek Lup Lup Bubble Drink.

“Saat itu kami enggak bisa jual lepas karena sistem franchise, sehingga akhirnya kami buka brand baru pada 2012, yakni Jakarta Bubble Drink untuk memenuhi permintaan klien yang hanya ingin membeli bahan baku,” tuturnya.

Hingga kini kedua lini usaha tersebut masih eksis. Lup Lup Bubble Drink ditawarkan bagi calon pelaku usaha yang ingin langsung berwirausaha tanpa harus memikirkan brand dan strategi pemasaran. Modal investasinya terdiri dari tiga paket usaha yakni Rp5,5 juta, Rp 8,5 juta dan Rp11,5 juta.

Sementara Jakarta Bubble Drink dipasarkan bagi kalangan pelaku usaha yang sudah punya konsep dan ide tersendiri, tetapi ingin mencari bahan baku murah dan berkualitas.

Dia menyediakan semua bahan baku bubble drink dan cappuccino cincau mulai dari bubuk minumannya hingga bahan topping seperti cincau, Aloe vera, tapioka pearl, jelly powder hingga topping boba. Produk tersebu dipasarkan lewat distributor dengan sistem beli putus.

Kini sudah ada sedikitnya sembilan distributor di berbagai kota seperti Denpasar, Solo, Lampung, Cirebon. Mereka umumnya menjual kembali dengan memakai merek sendiri.

“Distributornya itu dipilih dari para customer yang melakukan pembelian dalam jumlah besar, mereka kami arahkan jadi perwakilan di kotanya. Jadi tidak bisa ujug-ujug datang mengajukan diri karena kami harus kenal,” ujarnya.

Dalam berproduksi, selain mengutamakan kualitas, Jakarta Bubble Drink juga rajin  membuat varian baru dengan memperhatikan tren rasa di pasar. Hingga kini setidaknya sudah ada 35 varian rasa yang diproduksi dengan basis cokelat, kopi, vanilla, dan taro.

“Yang terbaru adalah red velvet, baru saja kami launching kemarin,” ucapnya. Dia menambahkan, produk-produk tersebut juga dapat disajikan dengan berbagai gaya seperti dicampur es maupun disajikan secara panas.

Jakarta Bubble Drink melayani penjualan secara grosir maupun ritel. Kebanyakan pelanggannya mengenal produknya dari situs www.jakartabubbledrink.net, serta media sosial seperti Instagram dengan akun @JakartaBubbleDrink, akun Twitter @JakartaBubble, dan akun Facebook @JakartaBubbleDrinkSupply.

Tidak ada minimum pemesanan. Pesanan ritel dengan pembelian satu kilogram juga dia layani. Khusus bagi distributor, dia memberikan diskon 3% hingga 5% bagi pemesan minimal 300 kilogram dan 500 kilogram.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minuman serbuk
Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top