Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

E-Commerce Industri Logistik Diprediksi Tumbuh 40%

Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia memprediksi pertumbuhan bisnis e-commerce akan mencapai 40% atau menyumbang 20%-25% dari total pertumbuhan industri logistik nasional yang diprediksi mencapai 15,2% hingga 2019.
Muhamad Hilman
Muhamad Hilman - Bisnis.com 18 Maret 2015  |  20:55 WIB
E-Commerce Industri Logistik Diprediksi Tumbuh 40%

Bisnis.com, JAKARTA—Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia memprediksi pertumbuhan bisnis e-commerce akan mencapai 40% atau menyumbang 20%-25% dari total pertumbuhan industri logistik nasional yang diprediksi mencapai 15,2% hingga 2019.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) Budi Paryanta mengatakan pertumbuhan e-commerce 40% per tahun tersebut seiring dengan pertumbuhan dan perubahan model bisnis yang menggunakan sistem online.

Terlebih, imbuhnya, pemerintah berencana menerapkan internet masuk desa, yang nantinya akan mendorong  pertumbuhan bisnis rumahan melalui model penjualan online.

Sumbangan e-commerce terhadap industri logistik nasional saat ini sekitar 20%-25%, sedangkan sisanya disumbang dari warehousing dan transportasi.

Untuk menangkap peluang tersebut, imbuhnya, perusahaan penyedia jasa pengiriman ekspres memperluas jaringan hingga ke pelosok-pelosok.

Untuk itu, diperlukan kerja sama antarperusahaan pengiriman ekspres, khususnya PT Pos Indonesia yang  telah memiliki jaringan kuat untuk membuat pengiriman dan transaksi perusahaan dalam satu wadah.

“Dan kedua, memodernisasi sistem perdagangan. Misalnya satu paket dengan e-commerce dan perusahaan ekspres, jadi ngelink,” ujarnya, Rabu (18/3)

Pada sisi lain, Asperindo meminta keberpihakan pemerintah terhadap para pelaku usaha terkait dengan regulasi yang ada.

Untuk saat ini, katanya, Kementerian Perdagangan tengah merancang undang-udang perdagangan e-commerce.

Paling tidak ada dua hal yang perlu terakomodasi dalam UU tersebut, yang pertama adalah mekanisme pengenaan pajak dan kedua mekanisme pengenaan klaim jika barang yang dipesan customer tidak sesuai dengan yang dikirimkan.

“Kami pesankan, sering kali regulasi tidak melibatkan penuh stakeholder, yang harunsya menata justru menjadi beban baru.”

Salah satu kebijakan yang menjadi beban baru bagi industri tersebut, imbuhnya, adalah kebijakan Kementerian Perhubungan yang menetapkan tarif batas bawah pemeriksaan kargo dan pos yang dilakukan regulated agent (RA) sebesar Rp550/kg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

e-commerce industri logistik
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top