Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Permukiman Kumuh, Begini Cara Pemerintah Sulap Jadi Layak Huni pada 2019

Pemerintah menargetkan pada 2019 dapat mengubah seluruh kawasan permukiman kumuh di Indonesia menjadi permukiman yang layak huni dengan pembangunan berbagai sarana dan prasarana, serta pemberdayaan masyarakat setempat.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 22 Desember 2014  |  17:42 WIB
 Permukiman kumuh di Jakarta - Antara
Permukiman kumuh di Jakarta - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah menargetkan pada 2019 dapat mengubah seluruh kawasan permukiman kumuh di Indonesia menjadi permukiman yang layak huni dengan pembangunan berbagai sarana dan prasarana, serta pemberdayaan masyarakat setempat.

"Ini merupakan tantangan berat, karena saat ini saja masih terdapat 38.431 hektare permukiman kumuh," kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago saat peluncuran Program Nasional Penanganan Kumuh 2015-2019 di Jakarta, Senin (22/12).

Untuk anggaran 2015 saja, Bappenas menyatakan terdapat anggaran senilai Rp12 triliun dari berbagai Kementerian untuk mengubah kawasan pemukiman kumuh tersebut menjadi kawasan permukiman layak huni.

Menurut Andrinof, target permukiman kumuh nol persen pada 2019 memang merupakan tantangan yang berat.

Pemerintah sudah memiliki Kelompok Kerja (Pokja) Perumahan dan Kawasan Permukiman, yang beranggotakan satuan tugas dari lintas Kementerian, dan juga pemerintah daerah setempat.

Menurut Andrinof, kerja Pokja tersebut ke depan tidak akan hanya berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana permukiman layak huni. Namun, akan terdapat target dan prioritas untuk pembangunan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di daerah setempat agar terjadi pemberdayaan masyarakat.

"Jadi perubahan juga termasuk di dalam mengubah nilai perilaku masyarakat. Tujuannya, peningkatan kesejahteraan ekonomi oleh masyarakat, jadi dia bukan hanya semata-mata perubahan fisik kota," ujar dia.

Menurut dia, jika pembangunan di permukiman kumuh hanya ditekankan pada pembangunan sarana dan prasarana fisik, dampak positif yang dihasilkan hanya parsial dan sementara.

Maka dari itu, pembangunan permukiman kumuh ini tidak akan diserahkan sepenuhnya ke swasta, namun akan selalu disupervisi oleh pemerintah.

"Bibit-bibit permukiman kumuh itu tidak hilang dan dapat muncul lagi jika hanya sarana dan prasarana, bukan pembangunan manusia," kata dia.

Upaya untuk mengembangkan kapasitas SDM tersebut, kata dia, menjadi penekanan pada setiap rencana program Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Andrinof mengatakan dalam Program Penanganan Pemukiman Kumuh 2015-2019, terdapat 11 kota/kabupaten yang dijadikan wilayah percontohan penanganan kumuh.

Sebanyak 11 kota/kabupaten itu adalah Banjarmasin, Semarang, Surabaya, Kabupaten Tangerang, Malang, Makassar, Palembang, Yogyakarta, dan Pekalongan.

Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Investasi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Rido Matari, mengatakan Pokja tersebut akan memberikan tiga penanganan pada kawasan permukiman kumuh.

Penanganan pertama adalah pemugaran permukiman kumuh. Kedua, peremajaan pemukiman kumuh dan ketiga adalah permukiman kembali pemukiman kumuh itu.

"Yang di lahan-lahan terlarang ada pemukiman kumuh itu yang akan dibuat permukiman baru," kata Direktur Pemukiman dan Perumahan Kementerian PPN/Bappenas Nugroho Tri Utomo.

Nugroho mengatakan Pokja masih mengidentifikasi wilayah permukiman kumuh, untuk kemudian ditindaklanjuti penanganannya. Menurut Nugroho, persebaran kawasan permukiman kumuh itu paling banyak terdapat di kawasan Indonesia Barat.

"Karena di Indonesia Barat, banyak sasaran kota urbanisasi, dan juga permukiman padat," ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

permukiman

Sumber : Antara

Editor : Bambang Supriyanto
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top