Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AYAM POTONG: Pemangkasan Suplai DOC Stabilkan Harga

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengklaim kebijakan pengurangan suplai ayam usia sehari atau day old chicks (DOC) telah berhasil menstabilkan harga daging ayam di tingkat ritel.
Adi Ginanjar Maulana, Dimas Waradhitya
Adi Ginanjar Maulana, Dimas Waradhitya - Bisnis.com 08 Agustus 2014  |  20:38 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, BANDUNG -- Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengklaim kebijakan pengurangan suplai ayam usia sehari atau day old chicks (DOC) telah berhasil menstabilkan harga daging ayam di tingkat ritel.

Dengan kebijakan pengurangan suplai tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar mengatakan harga daging ayam saat ini stabil di kisaran Rp28.000-31.000/kg.

Kadisperindag Jabar Ferry Sofwan Arif mengatakan, harga daging ayam tersebut masih lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Tahun lalu pasca Lebaran daging ayam di tingkat ritel sempat anjlok di kisaran Rp22.000-25.000, kalau lihat tren dari tahun lalu biasanya dua hingga tiga bulan ke depan harganya akan terus turun," ujar Ferry kepada Bisnis, Jumat (8/8/2014).

Menurut Ferry, saat ini kebutuhan DOC Jabar mencapai 10-15 juta ekor per minggu.

Dalam waktu dekat, Disperindag akan mengatur suplai mulai dari importasi grand parent stock (GPS) hingga suplai ayam ke ritel.

Sebagai informasi, kebijakan Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk mengurangi suplai DOC nasional masih dilakukan sebesar 20% dari rata-rata pasokan normal.

Kebijakan pengurangan suplai tahun ini merupakan kali ketiga, di mana sebelumnya diberlakukan pengurangan suplai DOC sebesar 15% dan 7,5% selama semester I-2014.

Persatuan Pengusaha Unggas Indonesia (PPUI) menyebutkan saat ini harga days old chik (DOC) pada peternak rakyat mencapai Rp5.500 per ekor, serta harga pakan mencapai Rp6.000 per kilogram. Sementara harga DOC pada PMA bisa mencapai Rp3.000 per ekor, sedangkan harga pakan Rp3.000 per kilogram.

Ketua PPUI Ashwin Pulungan mengatakan, PMA sudah terintegrasi antara pembibitan hingga penjualan ayam ke pasaran, sehingga peternak rakyat berpotensi merugi meskipun harga DOC tinggi.

“PMA itu sudah terintegrasi industrinya, sehingga mereka bisa menghasilkan DOC serta pakan dengan harga murah. Sementara peternak rakyat harus membelinya dengan harga mahal,” katanya.

Dia menjelaskan kondisi peternak rakyat tertekan karena industri perunggasan nasional sudah dikuasai PMA yang mencapai 70%.

Banyak usaha peternakan ayam rakyat yang gulung tikar karena tidak sanggup bersaing dengan para produsen PMA.

Dia juga menjelaskan akibat pembatasan solar akan berpengaruh terhadap harga jual ayam 20-25% karena naiknya biaya transportasi.

Ashwin mengatakan akibat adanya kebijakan tersebut para peternak rakyat semakin tertekan karena harus mengeluarkan biaya yang tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ayam
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top