Produksi Gula 2014 Diproyeksi Naik

Dari hasil kompilasi taksasi Maret 2014 pada semua pabrik gula, menunjukkan luas areal budidaya tebu mencapai 472.792 hektare, jumlah tebu digiling 26.182.325 ton dan gula yang dihasilkan lebih kurang 2.927.486 ton.
News Editor | 02 April 2014 09:25 WIB
Di luar Jawa, luas areal budidaya tebu sekitar 157.490 hektare, jumlah tebu digiling 22.800.577 ton dan gula dihasilkan 1.056.596 ton. - bisnis.com

Bisnis.com, SURABAYA - Produksi gula nasional dari hasil penggilingan tebu pada 2014 diprediksi naik dibandingkan tahun lalu.

Senior Advisor Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Adig Suwandi mengemukakan produktivitas tebu pada giling kali ini kemungkinan sedikit turun, tetapi rendemen (kadar gula dalam tebu) diperkirakan mengalami kenaikan kendati tidak setinggi tahun 2012.

"Dari hasil kompilasi taksasi Maret 2014 pada semua pabrik gula, menunjukkan luas areal budidaya tebu mencapai 472.792 hektare, jumlah tebu digiling 26.182.325 ton dan gula yang dihasilkan lebih kurang 2.927.486 ton," tuturnya di Surabaya, Selasa (2/4/2014).

Adapun produktivitas tebu diproyeksikan 76,5 ton perhektare, dengan rendemen 8,09% dan hablur 6,2 ton perhektare.

"Jika produksi gula sebanyak itu dapat direalisasikan, praktis Indonesia pada tahun 2014 telah mampu menutup semua kebutuhan gula konsumsi secara mandiri, dengan asumsi kebutuhan nasional sejumlah 2,6 juta ton," tambah Adig.

Seandainya terjadi koreksi sekitar 5%-10%, produksi gula masih akan setara 2,6 juta-2,78 juta ton. "Jumlah itu juga masih dalam batas aman untuk swasembada," ujar Adig yang juga Sekretaris Perusahaan PT Perkebunan Nusantara XI (Persero).

Data Dewan Gula Indonesia (DGI) mencatat sentra produksi gula masih terpusat di Pulau Jawa, dengan rincian luas areal budidaya tebu 305.302 hektare, jumlah tebu digiling 23.381.748 ton dan gula dihasilkan 1.870.890 ton.

Sementara itu di luar Jawa, luas areal budidaya tebu sekitar 157.490 hektare, jumlah tebu digiling 22.800.577 ton dan gula dihasilkan 1.056.596 ton.

Adig Suwandi mengatakan di sejumlah wilayah historis pabrik gula, terutama di Pulau Jawa, luas areal tebu rakyat diperkirakan mengalami penurunan akibat harga gula yang kurang kondusif dan nisbi tidak menguntungkan selama giling 2013.

"Sebagian petani tidak melakukan ekspansi areal budidaya. Kalau pun masih ada tebu dikelola, sebagian besar berasal dari keprasan yang memang tingkat pemeliharaannya memerlukan biaya lebih murah, minimal tidak perlu membeli bibit," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
produksi gula

Sumber : antara

Editor : Fatkhul-nonaktif

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top