Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Banjir Karawang, Puluhan Ribu Sawah Terendam, Ketahanan Pangan Terancam

Banjir di 28 kecamatan di Karawang, Jawa Barat yang merendam 9.698 hektare area pertanian teknis dan 15.761 hektare lahan persemaian diperkirakan akan mengganggu produksi pangan nasional 2014.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 31 Januari 2014  |  11:28 WIB
 Sawah Petani - Jibi
Sawah Petani - Jibi

Bisnis.com, JAKARTA - Banjir di 28 kecamatan di Karawang, Jawa Barat yang merendam 9.698 hektare area pertanian teknis dan 15.761 hektare lahan persemaian diperkirakan mengganggu produksi pangan nasional 2014.

Banjir di Karawang mendera 28 kecamatan yang di dalamnya terdapat 9.698 ha area pertanian teknis yang terendam dari realisasi tanam seluas 60.614 ha. Pada tahun ini terhitung 15.761 ha lahan persemaian telah rusak terendam banjir.

Rencana tanam pada 2014 ini seluas 97.000 ha, umur tanaman yang terendam dari 1-80 hari.

Dinas Pertanian Kehutanan Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Karawang belum bisa memastikan jumlah kerugian dari dampak banjir, karena baru bisa diketahui setelah banjir surut.

Tim dari Dinas Pertanian Kehutanan Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Karawang baru akan memantau dan menghitung kerugian setelah banjir surut.

"Banjir tahun ini termasuk yang terbesar melanda Jawa Barat dengan kerugian ekonomis mencapai ratusan miliar rupiah. Banjir yang melanda Jawa Barat akan besar pengaruhnya terhadap produksi beras nasional," kata Prof. Soleh Solahuddin, Guru Besar Institut Pertanian Bogor, dalam keterangan pers, Jumat (31/1).

Dia menjelaskan daerah-daerah yang dilanda banjir merupakan sentra-sentra pertanian andalan, salah satunya Kabupaten Karawang. Kondisi tersebut akan berdampak pada produksi beras nasional dan menjauhkan target swasembada jika tidak ditangani dengan baik dan terencana.

Untuk menutupi kurangnya ketersediaan beras dalam negeri, selama ini pemerintah selalu mengandalkan impor. Padahal, menurut Soleh, produktivitas pertanian dalam negeri masih memiliki potensi yang sangat besar untuk ditingkatkan.

"Kalau kondisinya begini, beras impor pasti akan masuk, legal maupun ilegal," ujar dia.

Impor beras memang belum bisa dihentikan seketika, karena kebutuhan Indonesia memang besar tetapi aturan dan pelaksanaannya mesti lebih ketat dan terpantau. Kementerian Perdagangan misalnya, jangan sampai mendatangkan beras premium yang hanya boleh diimpor oleh Bulog.

Pascabanjir kelak, menurut Soleh, terutama yang harus ditangani dengan serius adalah perbaikan sistem irigasi. Selama ini telah terjadi pendangkalan di saluran-saluran pengairan.

Selain fungsinya sebagai penyokong industri pertanian, saluran-saluran ini juga bisa difungsikan sebagai pengendali air ketika musim hujan tiba untuk mencegah terulangnya bencana yang sama di kemudian hari.

"Berikutnya, produksi dapat ditingkatkan dengan optimalisasi faktor-faktor produksi, baik pada skala intensifikasi maupun ekstensifikasi. Pemerintah bisa membantu dengan subsidi pupuk, bibit, dan lainnya yang harus dijamin tepat waktu, tepat jumlah, tepat kualitas, tepat mencapai petani target, dan tepat metode," ujarnya. (Antara)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ketahanan pangan
Editor : Bambang Supriyanto

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top