Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penyaluran LPG 3 Kilogram Tahun Ini di Atas Target

Pertamina memprediksi penyaluran liquefied petroleum gas (LPG) tabung 3 kilogram sepanjang 2013 mencapai 4,41 juta metrik ton (MT) atau lebih tinggi sekitar 0,5% dibandingkan dengan kuota tahun ini yang mencapai 4,39 juta MT.
Lili Sunardi
Lili Sunardi - Bisnis.com 09 Desember 2013  |  15:39 WIB
Penyaluran LPG 3 Kilogram Tahun Ini di Atas Target
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Pertamina memprediksi penyaluran liquefied petroleum gas (LPG) tabung 3 kilogram sepanjang 2013 mencapai 4,41 juta metrik ton (MT) atau lebih tinggi sekitar 0,5% dibandingkan dengan kuota tahun ini yang mencapai 4,39 juta MT.

Gigih Wahyu Hari Irianto, Vice President LPG and Gas Product Pertamina, mengatakan tingginya minat penggunaan LPG, mengakibatkan jebolnya kuota yang telah ditetapkan dalam APBNP 2013.

Untuk itu, Pertamina akan berusaha mendorong ketahanan pasokannya, agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Kalau LPG PSO [Public Service Obligation] kan menyangkut keuangan negara, dan sudah ada kuotanya 4,39 juta ton. Meskipun sudah kami coba tekan dan tidak ada kejadian apa-apa, tetap akan lebih tinggi 0,5% dari kuota,” katanya, Senin (9/12/2013).

Gigih menuturkan peningkatan penyaluran juga terjadi pada LPG tabung 12 kilogram, sehingga perseroan harus mengalami kerugian lebih banyak.

Sepanjang tahun ini diperkirakan penyaluran LPG tabung 12 kilogram mencapai 7% dari kuota tahun ini yang mencapai 910.000 MT.

Potensi kerugian yang akan ditanggung perusahaan dari  LPG 12 kilogram sepanjang tahun ini diperkirakan Rp5,5 triliun hingga Rp6 triliun.

Hal itu disebabkan Pertamina harus menjual LPG di bawah harga keekonomian, tanpa disubsidi pemerintah.

Tingginya harga patokan contract price (CP) Aramco dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga ikut menyebabkan tingginya kerugian perseroan dari penjualan LPG.

“Saat ini CP Aramco sudah mencapai US$1.172 per barel, dan kurs mencapai Rp12.000 untuk US$1. Padahal biasanya CP Aramco hanya US$880 per barel, kalau biasanya rugi Rp5.600 per kilogram, sekarang kami rugi hampir Rp9.000 per kg,” ujarnya.

Berdasarkan data Pertamina, impor LPG yang dilakukan perseroan tahun ini mencapai 2,82 juta MT, pasokan LPG dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) mencapai 1,61 juta MT, produksi kilang Pertamina 887.572 MT, dan produksi dari kilang swasta mencapai 105.026 MT.

Selain itu, impor LPG pada kuartal 3 tahun ini mencapai 840.174 MT, lebih tinggi dibandingkan dengan impor pada kuartal 2 tahun ini yang mencapai 811.113 MT, dan impor pada kuartal 1 mencapai 781.472 MT.

Hingga kini Pertamina memang belum dapat menaikkan harga jual LPG tabung 12 kg, meskipun Pasal 25 Peraturan Menteri ESDM No 26/2009 menyebutkan harga jual LPG untuk pengguna LPG Umum ditetapkan oleh badan usaha dengan berpedoman pada harga patokan LPG, kemampuan daya beli konsumen dalam negeri, dan kesinambungan penyediaan dan pendistribusian.

Pertamina sendiri terakhir kali menaikkan harga LPG 12 kilogram pada Oktober 2009 sebesar Rp100 per kg dari sebelumnya Rp5.750 menjadi Rp5.850 per kg.

Sementara itu, biaya produksi LPG terus mengalami penaikan dari sebelumnya sekitar Rp7.000 pada 2009 menjadi Rp10.064 per kg.

Untuk menekan kerugian dari sektor LPG 12 kilogram, saat ini Pertamina menjual produk LPG dengan merek Bright Gas.

Produk gas ini dikhususkan bagi konsumen segmen menengah, karena di jual dengan harga perdana Rp 448.500 dan Rp 115.000 per tabung untuk harga pengisian ulang.

Pada tahap awal, Bright Gas saat ini tersedia di Jabodetabek dan bakal tersebar d 12 kota lainnya hingga akhir 2013.

Pertamina menargetkan menjaring setidaknya 800.000 konsumen hingga akhir tahun dengan penjualan 34.000 MT.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

lpg lpg 3 kg
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top