Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Chatib: Indonesia Siap Hadapi Dampak Pengetatan Moneter AS

Bisnis.com, DEPOK - Pemerintah mengaku siap mengantisipasi jika bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve merealisasikan pengetatan stimulus moneter mulai September 2013.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 26 Agustus 2013  |  21:22 WIB

Bisnis.com, DEPOK - Pemerintah mengaku siap mengantisipasi jika bank sentral Amerika Serikat The Federal Reserve merealisasikan pengetatan stimulus moneter mulai September 2013.

Menteri Keuangan M. Chatib Basri memperkirakan implementasi pengurangan quantitative easing dalam waktu dekat akan memacu arus modal keluar yang cukup signifikan.

Dia menuturkan pemerintah terpaksa akan menempuh opsi penarikan pinjaman yang ditangguhkan (drawdown deferred option) jika 4 paket kebijakan yang baru saja dirilis tak ampuh menangkal krisis.

Chatib menyebutkan Indonesia memiliki fasilitas pinjaman siaga (stand by loan) US$5,5 miliar dari lembaga multilateral, yakni Bank Dunia (World Bank) dan Bank Pembangunan Asia (ADB), serta lembaga bilateral, yakni Jepang dan Australia.

Fasilitas pinjaman siaga itu berlaku mulai 2012 hingga 2014. Sampai pertengahan 2013, pemerintah masih belum menggunakan fasilitas ini mengingat seluruh kebutuhan pembiayaan defisit masih bisa terpenuhi dari penerbitan surat berharga negara (SBN).

Selain stand by loan, Bank Indonesia memiliki dana yang berasal dari bilateral swap agreement sebesar US$2 miliar.

Ditambah dengan cadangan devisa US$92,67 miliar per 31 Juli, Chatib yakin Indonesia lebih siap dibanding saat krisis keuangan global pada 2008.

“Itu signifikan kalau misalnya sampai terjadi sesuatu,” katanya di sela kuliah umum di depan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Senin (26/8/2013).

Kendati demikian, dia berharap pengetatan stimulus moneter oleh AS tak dilaksanakan seketika dalam waktu dekat alias bertahap sehingga Indonesia punya waktu lebih untuk memperbaiki ekspor dan menurunkan impor.

 Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar menambahkan pemerintah perlu terlebih dahulu memutakhirkan informasi persyaratan (trigger) suatu negara dapat menarik fasilitas pinjaman siaga.

“Karena trigger yang disusun kemarin banyak yang dicapai sebelum Indonesia mencapai investment grade. Dengan sudah investment grade, kami mau itu di-update sehingga tidak ketinggalan dan relevan dengan perkembangan yield beberapa waktu belakangan ini,” tuturnya.

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

quantitative easing
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top