Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Antam Adopsi Teknologi Direct Nikel Limited

Bisnis.com, JAKARTA – PT Aneka Tambang (Perseroan) Tbk menggunakan teknologi pengolahan nikel laterit milik Direct Nikel Limited (DNi) untuk  berenca mengembangkan proyek pengembangan pengolahan nikel terintegrasi, terutama nikel jenis laterit.
Inda Marlina
Inda Marlina - Bisnis.com 22 Juli 2013  |  21:06 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – PT Aneka Tambang (Perseroan) Tbk menggunakan teknologi pengolahan nikel laterit milik Direct Nikel Limited (DNi) untuk  berenca mengembangkan proyek pengembangan pengolahan nikel terintegrasi, terutama nikel jenis laterit.

Dirut Antam Tato Miraza menyatakan target pengembangan pengolahan nikel terintegrasi ini merupakan proyek jangka panjang yang membutuhkan waktu 10 tahun hingga 15 tahun. Dia mengatakan untuk memulai  Antam akan membangun pabrik olahan yang nikel yang terintegrasi salah satunya nickel stainles steel industry. 

“Untuk proyek ini, kami harus melihat kapasitas produksi. Karena di Indonesia belum ada pabrik stainles steel, perencanaan dan pembangunan ini harus bertahap. Kami juga harus melihat dari sisi investasi,” ujarnya hari ini, Senin (22/7/2013).

Perseroan memilih teknologi dari DNi karena perusahaan pengolahan nikel asal Australia tersebut dapat mengolah menggunakan teknik hydroelectric metallurgy. Teknologi pengolahan nikel laterit tersebut merupakan pertama kali di Indonesia. Teknologi yang digunakan memungkinkan untuk mengolah nikel dan mineral ikutan yang lain sehingga mengurangi kadar limbah serta lebih ramah lingkungan. 

Tato menyatakan, pengolahan nikel laterit merupakan salah satu pengolahan yang membutuhkan investasi dan modal teknologi yang besar. Selain itu, tuntutan saat ini untuk pabrik pengolahan adalah ramah lingkungan. Dengan kerjasama bersama DNi, Antam dapat mengembangkan teknologi seperti milik DNi sehingga ke depan badan usaha milik negara tersebut dalam mengolah konsentrat nikel di Indonesia dengan teknologi yang sama.

“Untuk kerjasama ini, kami akan pelajari parameter operasinya. Jika nanti sukses, maka kami akan berlanjut ke tahap keputusan investasi,” imbuhnya.

Rencana penghentian ekspor oleh pemerintah pada 2014 tidak menyurutkan perseroan untuk melihat peluang. Dalam hal ini, mereka akan memfokuskan pada pengolahan dalam negeri. Tato mengatakan, dengan adanya penghentian ekspor tahun depan, hal tersebut dapat mengendalikan suplai permintaan nikel, sehingga permintaan lebih terkendali. 

Penjualan bijih nikel Antam pada semester I (Akhir Juni) untuk high grade sebanyak 2,75 juta ton. Jumlah tersebut meningkat 147% dari target tahun lalu. Sedangkan untuk nikel jenis low grade tahun lalu berada di kisaran 1,2 juta ton mengalami peningkatan hingga 156% pada tahun ini. 

Harga penjualan bijih nikel saat ini seharga US$7,8 hingga US$8 per ton. Harga menurun dibandingkan tahun lalu yang masih di atas US$7,8 per ton.

Namun, perseroan optimis harga akan kembali pada semester I 2014. Mereka mengharapkan harga bijih nikel kembali ke kisaran US$8 hingga US$9. Peningkatan harga ini tergantung oleh penyerapan konsumen, sehingga harga dapat ditransfer untuk perusahaan yang membuat pabrikasi nikel. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

aneka tambang
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top