Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kenaikan BI Rate: Ekonomi Melambat, Rupiah Melempem

Bisnis.com,  JAKARTA—Bank Indonesia (BI) dinilai telah menempuh kebijakan yang salah dengan menaikkan suku bunga acuan [BI Rate] di tengah pelemahan ekonomi dalam negeri.
Hedwi Prihatmoko
Hedwi Prihatmoko - Bisnis.com 11 Juli 2013  |  17:29 WIB

Bisnis.com,  JAKARTA—Bank Indonesia (BI) dinilai telah menempuh kebijakan yang salah dengan menaikkan suku bunga acuan [BI Rate] di tengah pelemahan ekonomi dalam negeri.

Purbaya Yudhi Sadewa, Kepala Ekonom Danareksa Research Institute, menilai kenaikan BI Rate seharusnya diterapkan jika lonjakan inflasi disebabkan oleh lonjakan di sisi permintaan [demand pull inflation].

Menurutnya, lonjakan inflasi saat ini lebih disebabkan oleh guncangan di sisi supply yang mengakibatkan kenaikan ongkos produksi sehingga menyebabkan terjadinya kenaikan harga.

Demand kita tidak bubble. Shock yang menyebabkan inflasi ada di sisi supply, jadi tidak ada gunanya BI menaikkan BI Rate,” jelasnya di Kemenko, Kamis (11/7).

 Di sisi lain, lanjutnya, kenaikan BI Rate justru akan mengerem laju pertumbuhan. Dia memperkirakkan pertumbuhan investasi kuartal III tahun ini lebih rendah dibandingkan dengan kuartal II.

Padahal, investasi menjadi salah satu penyokong pertumbuhan ekonomi sehingga perlambatannya ikut mengerem pertumbuhan ekonomi.

RUPIAH MELEMAH

Lebih lanjut, Purbaya mengatakan kenaikan BI Rate tidak akan berpengaruh terhadap penguatan rupiah. Justru sebaliknya, dia menilai rupiah akan menguat jika BI menurunkan BI Rate.

“Kenaikan BI Rate ini sulit menciptakan sentimen positif terhadap rupiah. BI seharusnya belajar di pengalaman 2008. BI Rate terus dinaikkan sejak Mei dan rupiah terus melemah. Waktu Desember BI Rate diturunkan, rupiah langsung menguat tajam,” ujarnya.

Menurutnya, kenaikan BI Rate memberikan sinyal kepada investor akan adanya pengetatan moneter. Akibatnya, banyak investor menarik modalnya keluar [capital outflow] karena timbul sentimen perlambatan ekonomi akibat pengetatan moneter itu. Penarikan modal keluar inilah yang menyebabkan pelemahan rupiah.

“Investor global itu tidak mencari keuntungan dari selisih bunga, tetapi return keuntungan tinggi akibat perekonomian yang bagus yang menarik bagi mereka,” ujarnya.

Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia belum cukup credible bagi Indonesia untuk menarik minat investor masuk melalui selisih bunga.

Seperti diketahui, dalam jangka waktu 1 bulan, BI telah menaikkan BI Rate dua kali, masing-masing sebesar  25 basis poin dan 50 basis poin sehingga level BI Rate saat ini menjadi 6,5% dari 5,75% pada Mei 2013.

Adapun, sejak kenaikan BI Rate yang pertama di 2013 pada 13 Juni lalu, rupiah masih cenderung melemah sebesar 47 poin menjadi Rp9.934/US$ dari kurs pada saat itu sebesar Rp9.887/US$.

Selain itu, cadangan devisa juga telah menurun sebesar US$14,7 miliar menjadi US$98,1 miliar pada akhir Juni dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2012 sebesar US$112,8 miliar. Adapun, dalam sebulan terakhir, cadangan devisa turun US$7,05 miliar dari posisi akhir Mei sebesar US$105,15 miliar.

Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan cadangan devisa adalah  intervensi BI di pasar valas demi menjaga pergerakan pelemahan rupiah sampai saat ini masih terjadi. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah ekonomi BI Rate
Editor : Ismail Fahmi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top