Industri Jasa dan Reparasi Waspadai Pasar Bebas Asia Tenggara

BISNIS.COM, JAKARTA--Menjelang penerapan pasar bebas di Asia Tenggara, pelaku industri jasa dan reparasi mesin mulai waspada. Pasalnya, saat ini kinerja industri menurun signifikan akibat mulai masuknya perusahaan asing yang menggarap pasar dalam negeri.Berdasarkan
Febrany D. A. Putri | 16 Juni 2013 15:22 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA--Menjelang penerapan pasar bebas di Asia Tenggara, pelaku industri jasa dan reparasi mesin mulai waspada. Pasalnya, saat ini kinerja industri menurun signifikan akibat mulai masuknya perusahaan asing yang menggarap pasar dalam negeri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal I/2013 kinerja industri jasa reparasi dan pemasangan mesin serta peralatan menjadi sektor dengan penurunan terbesar. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2012, kinerja industri menurun hingga 18,57% dan dibandingkan dengan kuartal IV/2012, menurun 12,70%.

Ketua Bidang Peningkatan Perusahaan Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin (Gamma) Indonesia Djoko Wiyono menyebutkan penurunan kinerja ini disebabkan kelonggaran izin investasi yang diberikan pemerintah kepada perusahaan jasa dan reparasi mesin asing, sementara daya saing industri dalam negeri belum maksimal.

Djoko mencontohkan, pada tahun ini Korea Selatan dan China akan memperkuat penetrasinya di Indonesia. Untuk jasa reparasi mesin otomotif, Jepang telah lebih dulu mendominasi. Selain itu, untuk perbaikan pipa distribusi minyak antarpulau dan konstruksi bawah laut, masih bergantung pada tenaga asing yakni Amerika dan Eropa.

"Bayangkan ketika AEC [Asean Economic Community] 2015, jasa perusahaan asing dari negara lain di Asia Tenggara mulai masuk dan bisa jadi lebih murah. Pemerintah harus lebih memperhatikan dan meningkatkan daya saing nasional," tutur Djoko.

Djoko mengatakan, penggunaan jasa dan reparasi mesin asing memiliki risiko tersendiri, yakni data, sistem dan cara kerja mesin dan industri di dalam negeri dapat mereka ketahui.

Oleh karena itu, Djoko memberikan beberapa rekomendasi kepada pemerintah, yakni bagi pelarangan atau memasukkan ke daftar negatif investasi bagi perusahaan asing jasa dan reparasi mesin murni yang tidak memiliki pabrik. Selain itu meningkatkan pelatihan keterampilan serta penerapan sertifikasi bagi tenaga jasa dan reparasi mesin Indonesia.

"Investasi sebenarnya tidak masalah, asal memiliki kerja sama atau bermitra dengan perusahaan lokal sehingga terjadi transfer pengetahuan, mencegah pencurian teknologi dan pengemplangan pajak," tambahnya.

Untuk penerapan standar kompetensi dan sertifikasi, saat ini Gamma telah mempunyai Lembaga Sertifikasi Profesi Logam Mesin Indonesia (LSPLMI) yang mampu merekomedasikan sertifikasi bagi tenaga jasa dan reparasi mesin lokal. Sebelum mendapatkan sertifikat, ada pelatihan (workshop) dan tes tertulis serta praktik. Pemberian sertifikat dilakukan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Tag : reparasi
Editor : Others

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top