Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

INDUSTRI PETROKIMIA: Inaplas Desak Perusahaan Realisasikan Rencana Investasi

BISNIS.COM, JAKARTA -- Asosiasi Industri Aromatik, Olefin dan Plastik Indonesia (Inaplas) mendorong perusahaan petrokimia untuk segera merealisasikan investasi yang sempat tertunda pada 2012.
Bambang Supriyanto
Bambang Supriyanto - Bisnis.com 29 Mei 2013  |  03:50 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA -- Asosiasi Industri Aromatik, Olefin dan Plastik Indonesia (Inaplas) mendorong perusahaan petrokimia untuk segera merealisasikan investasi yang sempat tertunda pada 2012.

"Setelah rencana investasi pada tahun lalu tertunda akibat kenaikan harga bahan baku (Nafta), maka tahun ini saatnya merealisasikan berbagai rencana investasi mereka," kata Sekjen Inaplas Fajar A.D Budiyono, Selasa (28/5).

Apalagi, menurutnya, prospek industri petrokimia mulai cerah merujuk pada hasil positif di semester pertama 2013.

Fajar mengatakan pada tahun lalu industri petrokimia mengalami tekanan yang luar biasa akibat kenaikan harga Nafta yang dipicu melambungnya harga BBM di pasar internasional.

Selain itu, demand di pasar global juga menurun drastis imbas dari krisis di Eropa dan perlambatan ekonomi di China.

 "Harga Nafta pada semester II 2012 mencapai 925 dolar AS per ton, sedangkan harga jual produk petrokimiahanya sebesar 1.350 dolar AS per ton pada periode tersebut. Akibatnya, margin harga produk petrokimia jadi turun drastis," jelas Fajar.

Dia mengungkapkan banyak dari perusahaan anggota Inaplas yang terpaksa menunda rencana investasinya tahun lalu akibat tipisnya marjin yang mereka peroleh pada tahun 2012, bahkan beberapa produsen sampai mengalami kerugian.

Adapun pada semester pertama tahun 2013, iklim ekonomi negara-negara penghasil minyak mulai membaik sehingga berdampak terhadap stabilnya harga bahan baku Nafta.

 "Harga Nafta semester pertama 2013 sebesar US$875  per ton, sedangkan harga produk petrokimia rata-rata US$1.400 per ton, sehingga perusahaan akan meraih marjin cukup baik pada periode ini," kata Fajar.

Dia menambahkan kalau melihat konsumsi produk industri hilir petrokimia pada tahun ini, industri petrokimia domestik diperkirakan mengalami pertumbuhan sebesar 8%. Hal itu diyakini akan turut mendorong pertumbuhan di industri hulunya.

Konsumsi industri hilir akan dipengaruhi besar-kecilnya investasi baru yang dilakukan industri hulu, salah satunya regenerasi mesin sehingga akan mendorong efisiensi.

"Kalau efisiensi bisa dilakukan praktis produksi akan mengalami kenaikan sehingga dapat mengurangi ketergantungan impor," kata Fajar.

Dia menujuk sejumlah produk petrokimia yang siap untuk diluncurkan ke pasar dengan membaiknya iklim ekonomi di sektor ini seperti ethylene, propylene, polyethylene, monoethylene, polypropylene, butadiene, serta lainnya.

Bahkan, kata Fajar, untuk memenuhi kebutuhan petrokimia di dalam negeri, pemerintah telah menawarkan sejumlah insentif seperti tax holiday, tax allowance, pembebasan bea masuk barang modal atas impor mesin dan barang, serta bahan untuk pembangunan atau pengembangan industri untuk penanaman modal.

Fajar menambahkan, prospek industri petrokimia dari hulu sampai hilir kedepannya akan semakin cerah. Hal itu dilihat dari petumbuhan industri pengguna plastik, seperti peningkatan produk industri makanan dan minuman pada 2013 yang diprediksi mencapai 16%.

"Kemudian industri otomotif saat ini sebagian besar menggunakan bahan polimer apalagi kalau melihat jumlah kendaraan roda empat yang mencapai 8 juta dan roda dua sebanyak 1,2 juta pada 2012," jelasnya.

Selain itu, menurutnya, pada 2013 sejumlah ATPM berlomba-lomba meluncurkan mobil perkotaan (city car) yang sebagian besar (40%) konstruksinya berbahan dasar polymer. Begitu pula industri pertambangan dan migas yang saat ini memilih menggunakan pipa bawah tanah yang terbuat dari bahan dasar polymer untuk distribusinya.

Semua itu, imbuhnya, akan mendorong pertumbuhan industri petrokimia sampai 8% pada tahun ini. (Antara)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

petrokimia inaplas industri petrokimia
Editor : Bambang Supriyanto

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top