Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PERINGKAT UTANG RI TURUN: Anggap Saja Cambuk Bagi Pemerintah

BISNIS.COM, JAKARTA—Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menanggapi positif penurunan peringkat rating Indonesia dari ‘positive outlook’ menjadi ‘stable outlook’ dengan peringkat BB+ oleh Lembaga Pemeringkat Rating Internasional
Hedwi Prihatmoko
Hedwi Prihatmoko - Bisnis.com 03 Mei 2013  |  17:29 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA—Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menanggapi positif penurunan peringkat rating Indonesia dari ‘positive outlook’ menjadi ‘stable outlook’ dengan peringkat BB+ oleh Lembaga Pemeringkat Rating Internasional Standard & Poor (S&P).

Tamba Hutapea, Deputi Perencanaan Penanaman Modal BKPM, menganggap penurunan peringkat tersebut sebagai cambuk bagi pemerintah untuk segera menyelesaikan permasalahan dalam negeri.

“Kami sih positif saja, anggap sebagai cambuk untuk menyelesaikan ‘PR’ yang ada,” katanya saat ditemui di kantornya, Jumat (3/5/2013).

Di sisi lain, dia mengatakan koreksi peringkat yang diberikan S&P secara praktis tidak akan mempengaruhi kinerja investasi langsung, terutama investasi asing.

Pasalnya, perencanaan investasi langsung dilakukan dalam jangka panjang, mencapai 5-10 tahun, sehingga perubahan penilaian sesaat tidak akan langsung mengubah rencana para investor.

Selain itu, lanjutnya, investasi langsung merupakan jenis investasi dengan jangka waktu investasi 10—15 tahun untuk industri, dan 20—25 tahun untuk infrastruktur.

Tamba mengatakan peningkatan nilai investasi asing langsung pada kuartal I/2013 menunjukkan angka yang tinggi yaitu mencapai Rp14 triliun dibandingkan kuartal I/2012. Peningkatan ini, lanjutnya, lebih tinggi dari kuartal I/2012 yang meningkat Rp12 triliun dibandingkan kuartal I/2011.

“S&P sendiri kan menyatakan akan segera mengubah penilaiannya dalam 12 bulan ke depan kalau pemerintah melakukan reformasi kebijakan,” katanya.

Tamba juga mengemukakan S&P bukanlah satu-satunya pemeringkat internasional yang melakukan penilaian kepada Indonesia.

Investor juga menggunakan referensi dari lembaga pemeringkat lain, seperti Fitch Ratings, Japan Credit Rating Agency, Rating & Investment Information, dan Moody’s Investor Service.

“Sepertinya cuma S&P yang menurunkan peringkat kita. Tahun lalu kan mereka juga tidak menaikkan peringkatnya, tetapi investasi asing tetap tumbuh terus,” ujarnya.

Dia menilai Indonesia tetap menjadi daerah tujuan investasi yang menarik dengan segala permasalahannya.

Menurutnya, investor masih menilai positif pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih di atas 6%, rasio utang terhadap PDB yang cenderung menurun, dan kebijakan ekonomi makro yang masih prudent.

Sebagai catatan, Fitch Ratings, Rating & Investment Information, dan Moody’s Investor Service masih mengganjar Indonesia dengan penilaian investment grade.

Namun, diakui Tamba, koreksi rating oleh S&P akan mempengaruhi jenis investasi jangka pendek atau investasi dalam bentuk portofolio.

“Saya melihat setelah S&P membuat pernyataan, IHSG [Indeks Harga Saham Gabungan] memang langsung mengalami penurunan,” ujarnya.

Pada penutupan 1 Mei, IHSG masih menunjukkan kecenderungan yang meningkat dengan level 5060,92 pada saat itu.

Namun, saat S&P mengoreksi peringkat Indonesia pada 2 Mei, penutupan IHSG menurun ke level 4994,05. Sampai hari ini [3 Mei pukul 14.33], IHSG masih mengalami penurunan dengan level 4943,4.  (ra)

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bkpm rating s & p peringkat utang ri turun
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top