Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PULP & PAPER: Industri Indonesia Tak Akan Mampu Garap Peluang Di Asia

PELALAWAN, Riau: Industri pulp dan kertas Indonesia diprediksi tidak mampu menangkap peluang pasar kawasan Asia yang terus membesar.Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper Kusnan Rahmin memperkirakan Asia bakal menjadi pasar pulp dan kertas
News Editor
News Editor - Bisnis.com 30 Januari 2013  |  03:08 WIB

PELALAWAN, Riau: Industri pulp dan kertas Indonesia diprediksi tidak mampu menangkap peluang pasar kawasan Asia yang terus membesar.

Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper Kusnan Rahmin memperkirakan Asia bakal menjadi pasar pulp dan kertas dengan perttumbuhan tertinggi beberapa tahun mendatang.

"Industri pulp dan kertas tumbuh cepat, terutama di Asia. Permintaan pulp untuk Unocoated Wood Free di Asia bisa tumbuh dengan CAGR 3,6% per tahun di periode 2010--2025," ujarnya Senin petang (28/1).

Kusnan menyebut tingkat pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan CAGR pertumbuhan pulp UWF global yang mencapai 1,3 % per tahun di periode 2010--2025. Pada 2025, permintaan global untuk pulp UWF diprediksi mencapai 70 juta metrik ton.

Sebagai tambahan informasi, UWF merupakan bubur kertas yang digunakan untuk memproduksi art paper. Jenis ini berbeda dengan pulp BHKP yang digunakan untuk meghasilkan kertas biasa.

Industri pulp dan kertas Indonesia, lanjutnya, kesulitan meningkatkan kapasitas produksi. Hal tersebut disebabkan stagnannya pasokan kayu sebagai bahan baku kedua komoditas tersebut akibat sulitnya perluasan lahan Hutan Tanaman Industri.

"Luas HTI Indonesia bahkan lebih kecil dibandingkan dengan Jepang. Padahal luas Indonesia beberapa kali lipat jika dibandingkan dengan Jepang," imbuhnya.

Sulitnya meningkatkan pasokan bahan baku membuat Indonesia tidak bisa memaksimalkan berbagai keunggulannya guna menangkap potensi pasar Asia. Salah satu keunggulan tersebut, lanjutnya, adalah letak geografis Indonesia yang lebih dekat dengan China sebagai salah satu pasar utama pulp dan kertas.

"Secara geografis Indonesia diuntungkan karena lebih dekat dengan China. Transportasi pulp dan kertas sari Indonesia ke China hanya membutuhkan waktu 10 hari,"

Kusnan menambahkan transportasi dari kawasan lain membutuhkan waktu yang lebih lama. Produsen asal Amerika misalnya, membutuhkan waktu 30--50 hari untuk mengirim produknya ke China, sedangkan Amerika Latin butuh 30--60 hari, dan Eropa 40--60 hari.

Di sisi lain, permintaan pulp BHKP China diramal bakal menembus 14,3 juta metrik ton di 2025, atau tumbuh dengan CAGR 6,,4 persen per tahun sejak 2010. Level pertumbuhan tersebut melampaui CAGR permintaan pulp BHKP global 2010--2025 yang hanya berkisar 2,6%h  per tahun.
 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Muhammad Kholikul Alim

Editor : Bambang Supriyanto

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top