Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

DEFISIT PREMIER: KEN Ingatkan Pemerintah Waspadai Pergerakannya

JAKARTA -- Komite Ekonomi Nasional (KEN) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai pergerakan defisit premier terhadap sistem keuangan Indonesia agar tidak berlanjut di tahun mendatang.Ketua KEN Chairul Tanjung menuturkan defisit premier yang terjadi
- Bisnis.com 23 Januari 2013  |  05:54 WIB

JAKARTA -- Komite Ekonomi Nasional (KEN) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai pergerakan defisit premier terhadap sistem keuangan Indonesia agar tidak berlanjut di tahun mendatang.

Ketua KEN Chairul Tanjung menuturkan defisit premier yang terjadi pada 2012 memang belum mempengaruhi quote and quote sistem keuangan Indonesia. Akan tetapi, hal ini perlu diwaspadai oleh para stakeholder, khususnya pemerintah.

"Jika tidak segera diambil langkah-langkah cepat dan tepat, ujarnya, defisit premier bisa terjadi lagi pada tahun-tahun berikutnyan," ujarnya ketika jumpa pers usai mengikuti Sidang Kabinet Paripurna Ddiperluas di Sekretariat Negara, Selasa (22/1) malam.

Persoalan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan kebijakan fiskal Indonesia merupakan salah satu poin penting yang disampaikan KEN kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan jajarannya. KEN terutama menyorot tentang defisit primer yang dialami neraca keuangan Indonesia pada 2012.

"KEN memberi pandangan terkait masalah penerimaan APBN dan pengelolaan pengeluaran APBN. Kami berharap defisit yang ada dapat dikendalikan secara baik sehingga pemerintah bisa fleksibel dan ruang gerak cukup ketika ekonomi kena shock," katanya.

Poin kedua yang disampaikan KEN yaitu terkait persoalan kartel komoditas pangan. Persoalannya, ujarnya, naik turunnya harga pangan akan sangat berpengaruh terhadap golongan mayarakat miskin dan rentan miskin yang total mencapai 99 juta jiwa.

Golongan ini terpengaruh karena sebagian besar yaitu 65% pengeluarannya digunakan untuk membeli bahan makanan.

"Beberapa komoditas, pengelolaan tata niaganya masih terkesan oligopolis. Harapannya agar diambil tindakan-tindakan yang dianggap perlu agar tata niaga tersebut dapat lebih terkontrol sehingga harga stabil atau bahkan turun," ujarnya.

Selanjutnya poin ketiga yang disampaikan KEN yaitu soal perbaikan kesenjangan kemiskinan. Gearing ratio penduduk Indonesia yang mencapai 0,41% menunjukkan adanya kesenjangan pendapatan antara masyarakat miskin dan hampir miskin dengan kondisi ekonomi sexara umum.

"Kalau ini dibiarkan, maka kesenjangan akan semakin lebar. Perlu langkah-langkah pem agar ekonomi tetap tumbuh secara berkesinambungan," paparnya. (if)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Ismail Fahmi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top