Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

TARIF PELABUHAN: Asosiasi siap kaji ulang

JAKARTA--Tarif bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok bakal ditinjau ulang menyusul adanya kesiapan Ginsi untuk kembali membicarakannya dengan pemerintah.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 21 Januari 2013  |  17:20 WIB

JAKARTA--Tarif bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok bakal ditinjau ulang menyusul adanya kesiapan Ginsi untuk kembali membicarakannya dengan pemerintah.

DPW Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) DKI Jakarta sebelumnya telah mengajukan usulan rencana kenaikan tarif bongkar muat  --ongkos pelabuhan pemuatan dan ongkos pelabuhan tujuan (OPP-OPT) di Pelabuhan Tanjung Priok-- untuk peti kemas berkisar 15%. Untuk general cargo atau barang kelompok satu diusulkan naik 27%, kelompok dua  mencapai 11,38%,dan kelompok tiga sebesar 3,95%.
 

Adapun barang kategori kelompok satu itu a.l. ikan beku, kaca, curah cair, pulp, tiang pancang dan steel. Kelompok dua a.l. bag cargo, curah kering, dan jumbo bag. Adapun, barang kategori kelompok tiga a.l. coil, steel bar, billet in bundle, wire rod dan rail way steel.

Sekjen Gabungan Importir  Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Achmad Ridwan Tento mengatakan setiap pembahasan mengenai penyesuaian tarif jasa kepelabuhanan  harus  melibatkan asosiasi penyedia dan pengguna jasa terkait.

“Kami  (GINSI) selalu siap diajak komunikasi, apalagi menyangkut tarif bongkar muat di pelabuhan yang tentunya akan berpengaruh kepada pemilik barang,” ujarnya kepada Bisnis, di sela-sela kunjungan enam Menteri bidang ekonomi, di Pelabuhan Tanjung Priok, hari ini, Senin (21/1/2013).

Selain Menko Perekonomian Hatta Rajasa, menteri lainnya yang melakukan kunjungan tersebut a.l.  Menteri Keuangan Agus Martowardojo, Menteri Perdagangan Gita Wiryawan, Menteri Perindustrian MS Hidayat, Menteri Perhubungan E.E. Mangindaan, dan Menteri Pertanian Suswono.

Ridwan mengatakan struktur dan komponen tarif tersebut harus lebih transparan sehingga semua pihak dapat memahami kemana saja penggunaannya.

GINSI, kata dia, masih menunggu langkah selanjutnya dari PBM yang tergabung dalam APBMI DKI Jakarta menyangkut berapa dan bagaimana soal besaran penyesuaian tarif tersebut. “Mari kita breakdown dan hitung yang lebih detail dikaitkan dengan produktivitas bongkar muat yang ada saat ini,” tuturnya.

Ketua Indonesia National Shipowners Association (INSA) Jaya, C.Alleson mengingatkan idealnya sebelum dilakukan penyesuaian/kenaikan tarif OPP-OPT,  pihak Perusahaan Bongkar Muat (PBM) mesti memperbaiki kinerja bongkar muat di dermaga. “Ukurannya bagaimana kecepatan bongkar muat saat ini. Apakah sudah efisien atau belum. Indikator ini bisa jadi tolok ukur,” ujarnya.

Alleson mengakui dalam beberapa kali pembahasan soal penyesuaian tarif bongkar muat  di Pelabuhan Tanjung Priok itu belum mencapai titik temu, sehingga tarif yang berlaku sekarang masih mengacu pada pedoman tarif 2008.(msb)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Akhmad Mabrori

Editor : Martin-nonaktif

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top