Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

RUMPUT LAUT: Pengolahan Membutuhkan Inovasi & Teknologi

JAKARTA—Sebagai penghasil rumput laut terbesar di dunia, Indonesia seharusnya bisa lebih mengembangakan hasil olahan rumput laut yang lebih luas. Dengan demikian,  Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku untuk dunia saja,
- Bisnis.com 15 Januari 2013  |  14:54 WIB

JAKARTA—Sebagai penghasil rumput laut terbesar di dunia, Indonesia seharusnya bisa lebih mengembangakan hasil olahan rumput laut yang lebih luas. Dengan demikian,  Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku untuk dunia saja, tetapi bisa juga menjadi pemain penting dalam hasil produk olahannya.

“Diperlukan riset, inovasi dan pengembangan yang lebih luas. Dengan demikian dapat ditemukan variasi produk yang dibutuhkan masyarakat mulai dari makanan, kosmetika, hingga obat-obatan dan sebagainya,” kata Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Aziz hari ini, Selasa (15/1/2013).

Dalam waktu dekat, tepatnya 21 – 26 April 2013 di Bali, untuk pertama kalinya Indonesia akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan 21st International Seaweed  Symposium and Exhibition.

Ajang tersebut merupakan pertemuan ilmiah dan bisnis yang dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Selain kalangan ilmuwan, ajang itu juga akan dihadiri oleh pakar teknologi, pebisnis dan para pemerhati laut lebih dari 60 negara.

“Dalam ajang tersebut diharapkan Indonesia bisa menyerap inovasi dan teknologi mutakhir bagi pengembangan olahan rumput laut, demikian halnya ilmuwan dari Indonesia bisa ikut terlibat menampilkan hasil-hasil temuannya,” ungkap Safari.

Indonesia, kata Safari, termasuk di dalam wilayah Coral Triangle yang merupakan tempat yang cocok untuk dibudidayakannya rumput laut di wilayah pesisir.

Menurutnya, prospek olahan rumput laut dalam negeri pun masih besar karena masih banyak industri yang membutuhkan hasil olahan agar-agar dan carrageenan sebagai bahan pengenyal, pengemulsi, pengental dan penjernih untuk bahan pencampur alami, bahkan aginat bisa digunakan pupuk dari rumput laut jenis sargasum.

“Masih banyak produk makanan dan minuman yang berbasis rumput laut dan di luar negeri sudah terdapat sekitar 500 produk lebih yang menggunakannya dan di dalam negeri sendiri harus bisa lebih mengembangkannya,” jelas Safari.

Safari mengatakan, banyaknya hasil olahan produk rumput laut seharusnya bisa diserap lebih baik oleh pasar dalam negeri yang cukup besar. “Perlu dibangun pasar olahan dalam negeri yang lebih luas. Di samping kita mengekspor bahan baku dan produk olahan nasional”.

Untuk menumbuhkan hilirisasi rumput laut, ekonomi biaya tinggi masih menjadi ganjalan besar sehingga banyak hal yang perlu dipangkas.

“Prosedur birokrasi yang tidak berbelit-belit dan kemudahan perizinan sangat penting untuk menarik para investor. Kita menghimbau agar Pemda dan Pemerintah Pusat serta keenam Kementerian yang terlibat bisa lebih berkoordinasi dengan asosiasi,” kata Safari. (sut)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top