Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

INDUSTRI PETROKIMIA: Atasi lonjakan impor, pemerintah dorong investasi pabrik baru

JAKARTA: Pemerintah mendorong investor untuk membangun sejumlah pabrik petrokimia baru karena potensi pasar dalam negeri yang besar dengan kebutuhan yang diproyeksikan mencapai 5,5 juta ton pada 2016.
- Bisnis.com 15 Januari 2013  |  22:59 WIB

JAKARTA: Pemerintah mendorong investor untuk membangun sejumlah pabrik petrokimia baru karena potensi pasar dalam negeri yang besar dengan kebutuhan yang diproyeksikan mencapai 5,5 juta ton pada 2016.


Panggah Susanto, Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, mengatakan pembangunan pabrik baru merupakan skenario yang dapat dijalankan dalam waktu dekat ini untuk memenuhi kebutuhan petrokimia di dalam negeri.


“Kebutuhan industri plastik terhadap produk petrokimia terus meningkat yang memicu lonjakan impor,” katanya, Selasa (15/1).


Pihaknya menyiapkan dua skenario utama untuk memenuhi peningkatan konsumsi petrokimia domestik dalam beberapa tahun ke depan yakni membangun industri yang terintegrasi dan menambah sejumlah pabrik baru.


Dia menjelaskan skenario pertama akan dilaksanakan dengan membangun 3 kilang minyak berkapasitas masing-masing 300.000 barel per hari yang terintegrasi dengan pabrik petrokimia untuk memasok energi dan bahan baku pabrik olefin dan aromatik.


“Investasinya diperkirakan butuh sekitar masing-masing US$4 miliar,” ujarnya.


Selain itu, lanjutnya, pembangunan pembangunan naphtha cracker baru dengan kapasitas 1 juta ton ethylene per tahun dengan nilai investasi sekitar US$1 miliar dan pabrik aromatik baru berkapasitas 500.000 ton juga perlu dilakukan.


Menurutnya, skenario mengembangkan industri petrokimia terintegrasi membutuhkan investasi sekitar US$18 miliar dan ditargetkan dapat rampung pada 2015 dengan catatan adanya investor yang tertarik dengan program tersebut.


“Memang mengembangkan kawasan industri petrokimia yang terintegrasi agak sulit dan membutuhkan waktu yang lama,” katanya. (arh)


 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Aprika Rani Hernanda

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top