BATU BARA: Kapasitas produksi naik, sektor tambang di Kaltim lebih baik tahun depan

SAMARINDA: Bank Indonesia Perwakilan Samarinda memperkirakan industri tambang batu bara di Kaltim membaik pada kuartal II/2013. Perkiraan ini berdasarkan dari survei dilakukan kepada pelaku industri tambang batu bara di Kaltim dan pemantauan perkembangan
News Editor | 30 Desember 2012 18:13 WIB

SAMARINDA: Bank Indonesia Perwakilan Samarinda memperkirakan industri tambang batu bara di Kaltim membaik pada kuartal II/2013. Perkiraan ini berdasarkan dari survei dilakukan kepada pelaku industri tambang batu bara di Kaltim dan pemantauan perkembangan harga komoditas tersebut.Perkiraan terjadinya recovery atau perbaikan kondisi industri batu bara di Kaltim pada 2013 karena pelaku bisnis batu bara akan melakukan intensifikasi atau memaksimalkan kapasitas produksi dan tidak melakukan ekspansi untuk meningkatkan produksi."Malah BI melihat di kuartal IV/ 2012 ini, ada grafik peningkatan harga jual. Sehingga, survei Bank Indonesia memperkirakan 2013 pertumbuhan ekonomi di Kaltim dikuasai pertambangan akan membaik," jelas Kepala Perwakilan Bank Indonesia di Samarinda, Ameriza M. Moesa, akhir pekan ini.Dikatakan Ameriza, apabila recovery industri batu bara di Kaltim pada 2013 lebih cepat dan kinerja ekspor batu bara membaik maka pertumbuhan ekonomi Kaltim bisa mencapai angka 5 %. Namun, BI Perwakilan Samarinda memperkirakan pertumbuhan ekonomi Kaltim berkisar 4 % sampai 4,5 % tak jauh berbeda dengan perkiraan Badan Pusat Statistik Kaltim yang mematok pertumbuhan ekonomi Kaltim 2012 sebesar 4,2 %. "Pertumbuhan ekonomi Kaltim 2012 sedikit saja karena industri batu bara turun. Dari 3,93 % pada 2011 menjadi 4 % sampai 4,3 % pada  2012. Proyeksi kita mirip-mirip BPS Kaltim mematok 4,2 % pada 2012," katanya.Dari hasil survei Bank Indonesia terhadap pemegang PKP2B se-Kalimantan, beberapa debitur sektor pertambangan mulai merasakan kesulitan likuiditas dan kesulitan membayar angsuran akibat industri batu bara saat ini menurun. Penyebabnya, keterlambatan pembayaran buyer dan volume permintaan batu bara menurun. “Penurunan industri batu bara ini juga mempengaruhi penyaluran kredit dari perbankan. NPL kredit pertambangan meningkat dari 0,95 % pada kuartal III menjadi 1,37 % pada 2012. Jumlah kredit pertambangan se Kalimantan mencapai Rp 18,2 triliun dan pertumbuhannya melambat dari 49,62 % pada kuartal III menjadi 31,5 % pada kuartal IV.2012,” ujar Ameriza.Sementara itu, penyaluran kredit sektor transportasi komunikasi yang sangat erat terkait usaha pertambangan mencapai Rp 10,77 triliun mengalami pertumbuhan yang melambat dari 71,46 % year on year kuartal III menjadi 66,76 % kuartal IV/2012. Sedangkan rasio NPL sektor ini menurun dari 0,90 % kuartal III menjadi 0,88 % kuartal  IV/2012.Meski kondisi penjualan batu bara mengalami penurunan, namun kondisi tenaga kerja masih relatif tetap dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Turunnya industri tambang batu bara di Kaltim juga berdampak terhadap penurunan penjualan alat berat hingga 50 %. (k26/arh)

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : JIBI

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup