PASAR BUAH: Potensi Capai Rp52,5 Trilium

JAKARTA—Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayuran Indonesia (Aseibssindo)  memperkirakan pasar buah di Indonesia dapat mencapai Rp52,5 triliun. Ketua Umum Aseibssindo Kafi Kurnia menjelaskan hitungan ini berdasarkan data Bank Dunia
News Editor
News Editor - Bisnis.com 20 Desember 2012  |  19:40 WIB

JAKARTA—Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayuran Indonesia (Aseibssindo)  memperkirakan pasar buah di Indonesia dapat mencapai Rp52,5 triliun. Ketua Umum Aseibssindo Kafi Kurnia menjelaskan hitungan ini berdasarkan data Bank Dunia yang memprediksi masyarakat kelas menengah Indonesia dapat mencapai 150 juta pada 2014 dengan 30 juta diantaranya merupakan kelas menengah atas. Dia menjabarkan perhitungan potensi pasar buah di Indonesia adalah 150 juta konsumen diperkirakan akan mengkonsumsi 35 Kg per tahun dengan harga rata-rata buah per Kg dengan kualitas baik sebesar Rp10.000. “Jadi 150 juta konsumen dikalikan dengan 35 Kg konsumsi buah per tahun dikali harga buah sekitar Rp10.000 per Kg jadi totalnya mencapai Rp52,5 triliun. Ini pasar yang sangat menggiurkan bagi pengusaha dan petani lokal,” kata Kafi, Kamis (20/12). Padahal, lanjutnya, konsumsi buah masyarakat Indonesia masih dibawah dari standar yang ditetapkan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) yakni sebesar 65,75 Kg per tahun. Dia menambahkan jika dalam lima tahun Indonesia berhasil meningkatkan pertumbuhan konsumsi nasional, maka pasar buah segar bisa mencapai lebih dari Rp100 triliun. Namun, jika impor bisa ditekan hingga 20%, pasar buah yang dapat dinikmati petani berkisar hingga Rp80 triliun. Kafi menilai tujuh kawasan kota besar di Indonesia berpotensi menjadi pasar ekonomi makro yang unik dengan diperkirakan dihuni 30 juta kelas menengah atas tersebut. Ketujuh kota besar tersebut a.l. Jakarta, Bandung, Surabaya, Makasar, Medan, Denpasar, dan Joglosemar (Jogjakarta, Solo, Semarang). Sayangnya, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aseibssindo pada 2011 perilaku konsumen di tujuh negara Asean ternyata mereka tidak termotivasi untuk mengkonsumsi buah meski mengetahui tentang kesehatan. Dalam penelitian tersebut Kafi menjelaskan bahwa mereka memahami pengetahuan akan kesehatan, tetapi tidak takut mati. Sedangkan perilaku konsumen buah di Indonesia bahkan lebih unik. Mayoritas masyarakat mengkonsumsi buah dengan alasan kecantikan atau untuk merawat kulit mereka bukan semata kesehatan tubuh. “Jadi itulah alasan mengapa buah naga menjadi sukses di sini. Sebenarnya rasanya biasa saja, tetapi mereka mengkonsumsi dengan alasan kecantikan,” ujar Kafi. (if) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Rio Sandy P.

Editor : Wan Ulfa Nur Zuhra

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top