Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

TRAGEDI SUKHOI: Pilot tidak indahkan peringatan

JAKARTA- Komite Nasional Keselamatan Transportasi menyimpulkan tiga penyebab faktor kecelakaan pesawat Sukhoi pada 9 Mei 2012 diantaranya karena kelalaian pilot tidak mengindahkan peringatan. Juga soal sistem radar penerbangan belum dilengkapi pengenal
Arif Gunawan Sulistyono
Arif Gunawan Sulistyono - Bisnis.com 18 Desember 2012  |  21:34 WIB

JAKARTA- Komite Nasional Keselamatan Transportasi menyimpulkan tiga penyebab faktor kecelakaan pesawat Sukhoi pada 9 Mei 2012 diantaranya karena kelalaian pilot tidak mengindahkan peringatan. Juga soal sistem radar penerbangan belum dilengkapi pengenal daerah Gunung Salak.

Dengan demikian Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merekomendasikan kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan dan PT Angkasa Pura II untuk menyediakan sistem pengenal batas minimum ketinggian di kawasan Selatan Jakarta yakni di daerah Gunung Salak.

Ketua KNKT Tatang Kurniadi mengatakan dari hasil investigasi KNKT bersama tim ahli dari Rusia, ada tiga kesimpulan yang menjadi faktor penyebab kecelakaan pesawat Sukhoi RRJ-95B pada 9 Mei 2012.

Salah satunya yakni Jakarta Radar atau air traffic system (ATS) belum mempunyai batas ketinggian minimum pada pesawat yang diberikan vector. Sistem dari Jakarta Radar belum dilengkapi dengan minimum safe altitude warning (MSAW) yang berfungsi untuk daerah Gunung Salak.

"Kedepan, untuk penerbangan demo seperti Sukhoi, memang bisa diarahkan ke Selatan Jakarta, perlu disediakan radar yang mengenali batas minimum khususnya Gunung Salak. Namun, karena jalur selatan ini bukan jalur penerbangan komersial, maka pengadaan sistem radar menjadi tanggung jawab pemerintah," kata Tatang dalam jumpa pers hasil investigasi di kantor KNKT, Selasa (18/12/2012).

Jumpa pers mengenai laporan hasil investigasi kecelakaan pesawat Sukhoi RRJ-95B Registrasi 97004 yang terjadi pada 9 Mei 2012 di Gunung Salak. Turut hadir Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin, Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bakti S. Gumay, dan sejumlah penyelidik KNKT diantaranya Mardjono Siswosuwarno.

Adapun kesimpulan lain soal faktor penyebab kecelakaan pesawat Sukhoi, lanjut Tatang, yakni awak pesawat tidak menyadari kondisi pegunungan di daerah jalur penerbangan yang dilalui dan berakibat awak pesawat mengabaikan peringatan dari Terrain Awareness and Warning System (TAWS).

"TAWS sudah memberikan peringatan berupa suara, yakni terrain ahead, pull up, pada 38 detik sebelum benturan. Peringatan ini diikuti oleh enam kali peringatan berupa avoid terrain. Sayangnya kapten pilot yang tengah mengendarai pesawat Sukhoi itu mematikan TAWS karena berasumsi bahwa peringatan-peringatan berupa suara di kokpit itu karena database yang bermasalah," jelas Tatang.

Tak lama setelah peringatan dari TAWR tersebut, tujuh detik menjelang tabrakan dengan Gunung Salak, terdengar peringatan berupa suara, landing gear not down, yang berasal dari sistem peringatan pesawat.

Suara peringatan ini keluar jika pesawat berada pada ketinggian kurang dari 800 kaki di atas permukaan tanah dan roda pendarat belum diturunkan. Akhirnya pesawat menabrak tebing Gunung Salak pada pukul 14.32  lewat 26 detik sesuai data dari flight data recorder (FDR).

Kesimpulan ketiga, lanjut Tatang, yakni terjadi pengalihan perhatian terhadap awak kabin dari percakapan yang berkepanjangan dan tidak berkaitan dengan penerbangan. Hal ini menyebabkan pilot yang menerbangkan pesawat tidak dengan segera merubah arah pesawat ketika pesawat keluar orbit tanpa disengaja.

"Tabrakan bisa dihindari jika dalam 24 detik dari peringatan Terrain Awareness and Warning System (TAWS) di kokpit pesawat diindahkan dan pilot melakukan gerak menghindar, tetapi karena sibuk ngobrol, pilotnya sampai tidak sadar," kata Tatang.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin mengatakan investigasi KNKT ini merupakan investigasi objektif dan seimbang karena dilakukan sesuai standar ICAO.

"Kesimpulan telah diterima semua pihak, yakni pihak Rusia, Indonesia, Amerika Serikat dan Prancis," kata Mikhail.

Mikhail mengatakan santunan sudah diberikan kepada  ini kepada keluarga korban, masing-masing Rp1,25 miliar, dan sebagian masih diberikan secara bertahap. "Kami turut berduka cita mendalam atas para korban kecelakaan Sukhoi, kami akan memberikan santunan kepada masing-masing keluarga korban sesuai dengan regulasi di Indonesia," kata Mikhail.

Pesawat Sukhoi RRJ-95B registrasi 97004 dengan nomor penerbangan RA 36801 yang dioperasikan oleh Sukhoi Civil Aircraft Company melakukan penerbangan promosi dai Bandara Halim Perdana Kusuma menabrak tebing Gunung Salak pada 9 Mei 2012.

Dalam penerbangan tersebut terdapat 45 orang dan semuanya tewas. Mereka terdiri dari 2 pilot, 1 navigator, 1 flight test engineer dan 41 orang penumpang yang terdiri dari empat orang personil dari Sukhoi Civil Aircraft Company (SCAC), 1 orang personil dari pabrik resmi mesin pesawat (SNECMA) dan 36 orang tamu undangan yang terdiri dari 34 orang warga negara Indonesia, 1 warga negara Amerika Serikat dan 1 warga negara Prancis.(msb)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Berliana Elisabeth S.

Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top