Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

SARUNG GOYOR: Pemerintah Fasilitasi Peningkatan Produksi

 JAKARTA—Pemerintah fasilitasi peningkatan kapasitas produksi sarung goyor dari Sragen yang telah menembus pasar internasional melalui pembentukan koperasi sebagai wadah perajin maupun peningkatan modal kerja. Sarung Goyor dari Kalijambe,
Muhammad Sarwani
Muhammad Sarwani - Bisnis.com 11 Desember 2012  |  16:18 WIB

 JAKARTA—Pemerintah fasilitasi peningkatan kapasitas produksi sarung goyor dari Sragen yang telah menembus pasar internasional melalui pembentukan koperasi sebagai wadah perajin maupun peningkatan modal kerja. Sarung Goyor dari Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah memiliki ciri khas tersendiri, karena menimbulkan ras adem saat dipakai saat cuaca panas serta memberi kehangatan saat cuaca dingin. Keunggulan lainnya, sarung itu tidak perlu disetrika, namun tidak pernah kusut. Braman Setyo, Deputi Bidang Produksi Kementerian Koperasi dan UKM, menjelaskan secara umum sarung goyor sangat mudah perawatannya. Oleh karena itu pemerintah memfasilitasi peningkatan dan pengembangannya.

”Sarung goyor sangat digemari di negara-negara Timur Tengah, dan saat ini pangsa ekspor terbesar ke Somalia. Sarung ini juga memiliki daya tarik dan nilai historis, karena diproduksi secara turun temurun,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (11/12).

Di Desa Sambirembe, Sragen, sekitar 250 perajin aktif memproduksi sarung goyor dengan kapasitas sebanyak 60.000 potong per tahun. Oleh karena itu Kementerian Koperasi dan UKM memfasilitasi pembentukan Koperasi Industri dan Kerajinan (Kopinkra) Agawe Makmur.

Koperasi itu dibentuk agar kinerja perajin lebih efektif dan efisien serta bisa meningkatkan kesejahteraan. Sebab, koperasi berperan sebagai wadah kegiatan ekonomi secara bersama-sama. Selain itu koperasi berperan memenuhi kebutuhan bahan dasar perajin.

Asisten Deputi Urusan Industri Kerajinan dan Pertambangan Kementerian Koperasi dan UKM, mengemukakan produksi sarung goyor layak dibantu karena prosesnya sampai saat ini masih menggunakan tangan.

”Seluruh perajin mengerjakan sarung menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Kami membantu dari sisi permodalan secukupnya untuk meningkatkanpasitas produksi mereka agar mampu memenuhi pesanan dari local maupun ekspor,” ujarnya secara terpisah. (if)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Wan Ulfa Nur Zuhra

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top