Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ini Rekor Baru: NERACA PERDAGANGAN Januari-Oktober Defisit

JAKARTA--Pemerintah mewaspadai neraca perdagangan Januari-Oktober 2012 yang membentuk defisit untuk pertama kalinya sebesar US$561,1 juta. Defisit tersebut berisiko menurunkan kontribusi perdagangan internasional terhadap pertumbuhan ekonomi 2012.Menteri
Administrator
Administrator - Bisnis.com 03 Desember 2012  |  21:17 WIB
Ini Rekor Baru: NERACA PERDAGANGAN Januari-Oktober Defisit
Bagikan

JAKARTA--Pemerintah mewaspadai neraca perdagangan Januari-Oktober 2012 yang membentuk defisit untuk pertama kalinya sebesar US$561,1 juta. Defisit tersebut berisiko menurunkan kontribusi perdagangan internasional terhadap pertumbuhan ekonomi 2012.

Menteri Keuangan Agus D.W. Martowardojo mengatakan pemerintah akan menganalisa dengan seksama kondisi ekspor-impor Indonesia, terutama penurunan ekspor komoditas dan peningkatan impor.

"Jadi kita akan minta dibahas ini supaya bisa disikapi. Saya lihat inflasi baik sesuai rencana, tetapi perdagangan ini yang harus kita waspadai," ujarnya di Kemenkeu, Senin (03/12).

Menurutnya, kondisi nilai tukar yang melemah harusnya membuat importasi ke Indonesia menjadi tidak bergairah. Namun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai impor pada Oktober 2012 justru naik 10,82% (year on year) menjadi US$17,21 miliar, karena impor pesawat terbang.

"Konsisi exchange rate yang relatif lemah harusnya bikin impor tidak begitu tertarik, jadi mesti kita pelajari," tuturnya.

Ekonom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Latif Adam menilai defisit neraca perdagangan Januari-Oktober 2012 sudah pasti akan menurunkan kontribusi ekspor-impor terhadap pertumbuhan ekonomi yang selama ini mencapai sekitar 25%.

"Kalau mencapai 15% saja sudah sangat bagus dan agak berat. Jadi harus ada sektor yang mampu menggantikan peran ekspor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," kata Latif.

Selain menekan pertumbuhan ekonomi, defisit neraca perdagangan juga dinilai Latif berisiko memberatkan ekonomi dari jalur moneter.

Pasalnya, impor yang lebih tinggi daripada ekspor membuat kebutuhan valas di dalam negeri meningkat. Akibatnya, nilai tukar rupiah berisiko terdepresiasi dan menyebabkan tekanan inflasi dari imported inflation.

Fluktuasi kurs, lanjutnya, berisiko menggerus cadangan devisa Indonesia yang dikelola oleh Bank Indonesia untuk mengintervensi pasar valas.  

"Yang paling sustain untuk mengelola cadangan devisa adalah melalui perdagangan. Kalau satu sumber yang stabil berkurang, cadangan devisa fluktuasinya akan tinggi," ujarnya.

Latif memproyeksi neraca perdagangan Indonesia masih akan terpengaruh oleh besarnya importasi minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM), kebutuhan barang modal seiring penanaman modal asing (PMA), dan lesunya permintaan global. Meski demikian, Latif optimistis neraca perdagangan di akhir tahun akan kembali membentuk surplus US$1,3 miliar--US$1,5 miliar.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor Indonesia Januari-Oktober mencapai US$158,66 miliar, sedangkan impor mencapai US$159,18 miliar. Akibatnya, terbentuk defisit pada neraca perdagangan Januari-Oktober 2012 sebesar US$516,1 juta.  (Bsi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Neraca Perdagangan agus martowardoyo menteri keuangan ekspor impor
Editor : Others
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top