Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

SUKHOI JATUH: FDR ditemukan, Analisis Selesai dalam dua pekan

JAKARTA: Komite Nasional Keselamatan Transportasi menargetkan proses analisis pembacaan Flight Data Recorder yang merupakan bagian kotak hitam pesawat Sukhoi Superjet 100 selesai dalam dua pekan dan diharapkan mampu mengungkap kondisi akhir pesawat 
Arif Gunawan Sulistyono
Arif Gunawan Sulistyono - Bisnis.com 31 Mei 2012  |  16:57 WIB

JAKARTA: Komite Nasional Keselamatan Transportasi menargetkan proses analisis pembacaan Flight Data Recorder yang merupakan bagian kotak hitam pesawat Sukhoi Superjet 100 selesai dalam dua pekan dan diharapkan mampu mengungkap kondisi akhir pesawat  sebelum menabrak Gunung Salak. Ketua Tim Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Mardjono Siswosuwarno menuturkan bahwa FDR pesawat buatan Rusia tersebut telah ditemukan dan diserahkan langsung kepada KNKT pada Kamis pagi (31/5).

FDR merupakan rekaman data-data penerbangan yang merupakan bagian dari kotak hitam pesawat. Bagian lainnya adalah  Cockpit Voice Recorder (CVR) yakni yang merekam percakapan di kokpit.“Kami akan langsung membukanya, proses download [pengunduhan] butuh waktu sekitar 4 jam, sedangkan analisis pembacaannya butuh waktu 2 minggu,” kata Mardjono di kantor KNKT, Jakarta, Kamis 31 Mei 2012.

Mardjono mengatakan di dalam FDR tersebut terdiri dari data penerbangan yang mencakup parameter-parameter penerbangan seperti tinggi terbang, kecepatan terbang, arah, kekuatan mesin, temperatur mesin, percepatan-percepatan misalnya lonjakan-lonjakan, posisi roda pendarat yang kemungkinan besar dalam posisi naik.

“Semua itu terdiri dari 471 grafik. FDR ini akan sangat membantu dalam pembacaan Cockpit Voice Recorder (CVR) percakapan di kokpit yang telah diketemukan lebih dulu oleh Tim Basarnas,” kata Mardjono.

Dia menjelaskan dalam FDR merekam data lebih dari 20 jam terbang sebuah pesawat, perekaman dimulai 25 menit sebelum terbang hingga pesawat berhenti, dalam kasus ini hingga pesawat Sukhoi jatuh. “Tanpa alat ini analisis penyebab kecelakaan tidak akan akurat dan butuh waktu lebih lama,” tuturnya.

Pakar penerbangan yang merupakan Instruktur Penerbangan APG Flying School Filipina Ruth Hanna Simatupang mengatakan FDR akan dapat memberikan keterangan arah, kecepatan, manuver terakhir, prosedur terbang.

“Masih banyak lagi yang dapat diketahui melalui FDR, termasuk kondisi akhir pesawat apakah ada kerusakan atau tidak. Namun menurut saya sih pesawat tidak ada masalah,” kata Hanna.

Dia menambahkan dari sisi kelaikan pesawat, Sukhoi Superjet 100 yang menabrak Gunung Salak, Bogor pada 9 Mei 2012 itu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi karena sudah mendapat sertifikasi dan untuk mendapatkannya harus uji terbang ribuan jam.

Pesawat Sukhoi Superjet 100 ini sudah mendapat sertifikasi kelayakan dari Rusia sendiri yakni Interstate Aviation Committee Aviation Register (IAC-AR) pada 28 Januari 2011 dan European Aviation Safety Agency (EASA) pada 3 Februari 2012.

“Pesawat tidak ada masalah, yang menjadi masalah yakni ada kesalahan prosedur baik yang dilakukan pihak Rusia maupun pihak Indonesia khususnya dari tenaga ATC [Air Traffic Control] atau petugas pengatur lalu lintas udara,” ujar Hanna.

Dia menambahkan berdasarkan pengalamannya sebagai anggota KNKT, pada kecelakaan pesawat Garuda  pada September 1997 di Sibolangit, dari hasil investigasi ditemukan ada kesalahan pada prosedur pemberian arahan oleh ATC kepada pilot pesawat yang nahas. Petugas tidak yakin saat memberikan arahan.

“Nah, pada kecelakaan Sukhoi, secara nalar, mengapa petugas ATC memberikan arahan pilot menurunkan ketinggiannya padahal tepat diposisi tersebut ada obstacle (rintangan) yakni Gunung Salak,” katanya.

Selain harus dipertanyakan dari sisi ATC, tutur Hanna, perlu juga dipertanyakan prosedur terbang dari pesawat Sukhoi itu sendiri. Normalnya, pesawat yang melakukan demo flight untuk promosi menggunakan visual flight rules (VFR)  bukan instrument flight rules (IFR).

“Namun ternyata pilot menggunakan IFR. Nah, untuk IFR, seharusnya sistem radar di pesawat harus sudah memuat lokasi rute Gunung Salak, tetapi karena rute ini mereka belum pernah terbangi, tidak ada masuk dalam radarnya,” tutur Hanna.

Menurutnya, jika pilot Sukhoi belum pernah terbangi rute Gunung Salak, harus mengajak pilot lokal yang sudah mengerti lapangan. “Artinya pihak Sukhoi Rusia juga ada kesalahan prosedur,” tuturnya.(mmh)

 

BERITA LAINNYA:

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top