Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

DERMAGA NON-PETI KEMAS: Pengembangan butuh perhatian

JAKARTA: Pengembangan fasilitas dermaga dan peralatan bongkar muat untuk pelayanan kapal-kapal non peti kemas atau pengangkut kargo umum dan curah di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, perlu perhatian.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 31 Mei 2012  |  10:28 WIB

JAKARTA: Pengembangan fasilitas dermaga dan peralatan bongkar muat untuk pelayanan kapal-kapal non peti kemas atau pengangkut kargo umum dan curah di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, perlu perhatian.

 

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (Alfi) DKI Jakarta Sofian Pane mengatakan selama ini perhatian manajemen Pelindo II lebih cenderung kepada perbaikan serta  peningkatan pelayanan barang jenis peti kemas, sedangkan untuk kargo non peti kemas nyaris belum tersentuh.

 

Pelaku usaha, ujar dia, berharap investasi dalam pengembangan fasilitas dan peralatan bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok perlu diseimbangan, yakni tidak hanya mengedepankan untuk kepentingan komoditas/jenis barang tertentu.

 

Padahal, kata dia, arus barang non peti kemas yang dikapalkan dan bongkar muat  di pelabuhan tersibuk di Indonesia itu jumlahnya cukup signifikan, bahkan potensinya terus bertambah setiap tahun.

 

“Idealnya, pengembangan Priok juga mencakup fasilitas untuk pelayanan barang non peti kemas itu termasuk menyiapkan areal  penumpukan yang cukup serta penambahan fasilitas dermaga. Jadi tidak hanya pada fasilitas pelayanan untuk peti kemas,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis 31 Mei 2012.

 

Dia mengatakan, akibat terbatasnya dermaga dan fasilitas bongkar muat kargo umum dan curah di Pelabuhan Tanjung Priok itu, kini banyak pemilik barang yang mengalihkan model kegiatan pengapalannya dari non-peti kemas menjadi menggunakan peti kemas.

 

“Bayangkan sekarang ini untuk komoditi seperti beras, tepung, jagung dan sejenisnya, termasuk steel saja sudah beralih proses pengapalannya menggunakan peti kemas,” sergahnya.

 

Sofian mengatakan, padahal biaya bongkar muat melalui dermaga/terminal peti kemas dan penggunaan pengangkutan menggunakan peti kemas dinilai lebih mahal ketimbang menggunakan fasilitas di dermaga umum.

 

“Biaya penggunaan kontener kan mahal, belum lagi jika terkena demurage (kelebihan waktu penggunaan kontener) jika barangnya terlambat di bongkar dan sampai ke gudang/pabrik,” paparnya.

 

Dia menambahkan, semakin tinggi kecenderungan pemilik barang dalam penggunaan peti kemas pada proses pengapalan juga mendongkrak tingkat kepadatan atau yard occupancy ratio (YOR) di dalam pelabuhan, sehingga pelabuhan seringkali menghadapi ancaman stagnasi.

 

“Seharusnya pengembangan pelabuhan perlu seimbang antara fasilitas non peti kemas dengan peti kemas, sebab tidak semua jenis barang bisa dimasukkan ke dalam peti kemas,” jelas Sofian.

 

Dengan beralihnya pola pengapalan, kata dia, juga akan berdampak pada eksistensi tenaga kerja bongkar muat (TKBM) di Pelabuhan.

 

”Eksistensi TKBM ini juga akan semakin hilang jika lebih banyak barang yang menggunakan peti kemas dalam kegiatan pengapalan dan bongkar muat-nya,” paparnya. 

 

Kepala Humas Pelindo II cabang Pelabuhan Tanjung Priok Sofyan Gumelar, yang dikonfirmasi Bisnis (31/5) membantah perseroan mengesampingkan pengembangan dermaga dan fasilitas pelayanan untuk bongkar muat barang non-peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok.

 

“Justru kami sedang mempersiapkan agar Pelabuhan Priok berkonsep dedicated terminal yakni memisahkan lebih detail kegiatan pelayanan untuk barang dalam peti kemas, kargo umum dan curah (non peti kemas),” ujarnya.

 

Menurut data Pelabuhan Tanjung Priok yang di peroleh Bisnis, arus barang jenis kargo umum dan curah melalui Pelabuhan Tanjung Priok selama triwulan I/2012 untuk komoditi al; Semen Curah mencapai 213.408 Ton, Klinker (bahan baku semen) 242.358 Ton.

 

Kemudian Tepung Terigu 18.101 Ton, Gandum 546.932 Ton,Besi Bekas/Steel Scrapp 161.569 Ton, Pasir 516.450 Ton,Tanah Liat 24.200 Ton, Gypsum 178.105 Ton, Batu Bara 597,721 Ton, Beras 340.093 Ton.

 

Makanan Ternak 22.900 Ton,Crude Palm Oil (CPO) 615.894 Ton, Pupuk 6.800 Ton, Hewan (Sapi) 28.070 Ton, Mobil & Sejenisnya 4.695 Unit, Pulp 625.701 Ton, steel product 721.155 Ton, dan kertas 5.767.010 Ton, kayu gelondongan 224.994 Ton, spare part 1.121 Ton, Alumunium 17.402 Ton.(K1/Bsi)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Akhmad Mabrori

Editor : Puput Jumantirawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top