Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

GULA RAFINASI: Sulsel minta pemerintah pusat atur tata niaganya

MAKASSAR: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Selatan meminta pemerintah mengatur tata niaga gula rafinasi dengan regulasi khusus untuk mengisi tingginya kebutuhan di daerah ini yang diklaim instansi tersebut sulit dipenuhi.Kepala Disperindag
News Editor
News Editor - Bisnis.com 30 Mei 2012  |  14:32 WIB

MAKASSAR: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Selatan meminta pemerintah mengatur tata niaga gula rafinasi dengan regulasi khusus untuk mengisi tingginya kebutuhan di daerah ini yang diklaim instansi tersebut sulit dipenuhi.Kepala Disperindag Sulsel Irman Yasin Limpo mengatakan, selama ini pihaknya masih kesulitan memenuhi kebutuhan gula di Sulsel.

"Lagi-lagi kami terhalang regulasi, untuk memenuhi kebutuhan gula masyarakat. Bagi kami, tidak penting gula yang ada di daerah ini berasal dari mana, yang penting bisa memenuhi kebutuhan masyarakat," ujarnya seusai menerima direksi PT Makassar Tene di Makassar, hari ini Rabu, 30 Mei 2012.Menurutnya, pasokan gula dari tiga pabrik gula milik PT Perkebunan Nusantara XIV dan pasokan dari pabrik gula swasta milik Makassar Tene, serta suplai dari pabrik gula di Gorontalo, permintaan pasar masih belum dapat terpenuhi. Adapun kebutuhan gula di provinsi tersebut mencapai 120.000 ton per tahun, atau 10.000 ton per bulan.Produksi gula dari tiga pabrik gula milik BUMN yaitu pabrik gula Camming, Arasoe, dan Takalar menghasilkan 40.000 ton gula per tahun. Sementara suplai dari pabrik gula di Gorontalo kurang lebih mencapai 20.000 ton per tahun.

 

"Berarti kami masih kekurangan 60.000 ton gula per tahun, untuk konsumsi masyarakat," ujarnya.Dia menambahkan untuk menutupi kebutuhan tersebut, kebutuhan gula Sulsel terpaksa dipenuhi dengan suplai gula dari Makassar Tene sebagai salah satu pabrik gula milik swasta terbesar di kawasan timur Indonesia (KTI).

 

Namun, gula yang diproduksi adalah gula rafinasi yang menurut peraturan hanya diperuntukkan bagi industri makanan dan minuman, bukan untuk dikonsumsi langsung oleh masyarakat.Irman mengungkapkan jika kebutuhan masyarakat tidak terpenuhi maka akan ada pengaruh yang timbul terhadap industri makanan dan minuman, usaha kecil menengah (UKM), dan lain-lain. Sementara industri yang lebih banyak berkembang di Sulsel, adalah sektor UKM."Investasi hanya tumbuh 2% per tahun, dan industri besar yang ada di sini hanya PT Vale Indonesia dan Semen Tonasa, selebihnya adalah UKM. Oleh karena itu, jika UKM-UKM yang ada terganggu oleh ketersediaan gula, maka akan berpengaruh kemana-mana. Ini yang ditakutkan, dan harus terus kami jaga," paparnya.Direktur PT Makassar Tene yang juga Wakil Ketua I Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (Agri) Andre Vincent Wenas menuturkan, secara nasional produksi gula yang ada masih belum bisa memenuhi konsumsi gula masyarakat Indonesia.

 

"Kebutuhan gula secara nasional mencapai 5,2 juta ton per tahun, dengan dua tipe pasar yang harus dilayani yaitu industri mencapai 2,5 juta ton, dan konsumsi langsung 2,7 juta ton," terang Andre.(api)

 

 

BACA JUGA:

Skandal bola Liga Italia

Tender 3G molor, pemerintah bisa kena sanksi

Grasi Corby, apakah ada deal RI dengan Australia?

Sweeping software bajakan, BSA digugat


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Wiwiek Dwi Endah

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top