Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PRODUKSI BAJA: dikhawatirkan tak capai target

JAKARTA: Produksi baja jadi dalam negeri dikhawatirkan tidak akan mencapai target jika permasalahan tersendatnya besi tua (scrap) di sejumlah pelabuhan tidak teratasi.Berdasarkan data Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), kemampuan
News Editor
News Editor - Bisnis.com 23 Mei 2012  |  21:34 WIB

JAKARTA: Produksi baja jadi dalam negeri dikhawatirkan tidak akan mencapai target jika permasalahan tersendatnya besi tua (scrap) di sejumlah pelabuhan tidak teratasi.Berdasarkan data Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), kemampuan produksi industri baja dalam negeri berada di kisaran 8-9 juta ton dalam setahun.Direktur Eksekutif IISIA, Edward Pinem menuturkan pihaknya khawatir industri baja domestik hanya bisa berproduksi 4-4,5 juta ton pada tahun ini jika permasalahan tersebut masih terjadi.Produksi baja dalam negeri diduga turun signifikan pada 4 bulan pertama 2012 akibat tersendatnya bahan baku di sejumlah pelabuhan di Tanah Air.

Pada Januari-April 2012, produksi baja Tanah Air hanya mencapai 1,5 juta ton atau anjlok 50% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 3 juta ton.

 

"Ini menunjukkan industri baja kita sudah mengkhawatirkan," katanya, Rabu 23 Mei 2012.Menurutnya, anjloknya produksi tersebut terjadi akibat tertahannya sekitar 7.000 kontainer bahan baku berupa besi tua di sejumlah pelabuhan sejak 4 Februari lalu.Pemerintah belum memiliki solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. 

Mereka berasumsi impor scrap harus melalui pemeriksaan yang sangat ketat di pelabuhan dengan alasan untuk menjamin bebas dari bahan berbahaya dan beracun (B3).

Saat ini, industri baja masih mengimpor 70% scrap untuk bahan baku peleburan baja dan 30% bahan baku lainnya dipasok dari dalam negeri.Ketua Klaster Paku dan Kawat IISIA Ario Setiantoro menambahkan industri yang paling terkena dampak dari kebijakan penahanan scrap tersebut adalah industri hulu. 

Meskipun demikian, industri hilir, seperti paku dan kawat, juga terkena dampak karena harga bahan baku diperoleh dari industri hulu.

 

Akibat tersendatnya bahan baku scrap itu, harga bahan baku dari industri hulu naik 500%-600%  dibandingkan dengan periode sebelumnya."Ini sudah sangat memengaruhi biaya produksi kami," tegasnya.Dengan demikian, ungkapnya, harga jual kawat dan paku ke konsumen juga mengikuti kondisi meningkatnya beban biaya operasional tersebut.  (ra)

 

 

SITE MAP:


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Herdiyan, Agust Supriadi

Editor : Basilius Triharyanto

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top