Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BISNIS SEWA GEDUNG: Okupansi kondominium 2012-2013 sewa diduga turun

JAKARTA: Tingkat hunian kondominium sewa di Jakarta pada 2012-2013 diperkirakan akan turun menjadi 55%-60% dari okupansi tahun lalu 60%-65% akibat banyaknya pasokan, tetapi kondisi ini belum menggambarkan bubble (penggelembungan).
Deriz Syarief
Deriz Syarief - Bisnis.com 20 Mei 2012  |  14:05 WIB

JAKARTA: Tingkat hunian kondominium sewa di Jakarta pada 2012-2013 diperkirakan akan turun menjadi 55%-60% dari okupansi tahun lalu 60%-65% akibat banyaknya pasokan, tetapi kondisi ini belum menggambarkan bubble (penggelembungan).

 

Arief Rahardjo, Head of Research & Advisory PT Cushman & Wakefield Indonesia, mengatakan hal inilah yang perlu diwaspadai oleh investor yang ingin membeli kondominium sewa.

 

"Yang perlu diperhatikan adalah banyaknya jumlah pasokan kondominium sewa akan menyebabkan kompetisi makin tinggi dan berpengaruh dengan harga sewa. Tetapi, selama imbal hasil (yield) tidak lebih rendah dari suku bunga deposito, maka bubble (penggelembungan) tidak akan terjadi. Kondisi itu tidak akan terjadi pada 2012 - 2013," ujarnya beberapa waktu lalu.

 

Dia menjelaskan banyaknya pasokan kondominium baru yang akan masuk ke pasar disebabkan karena mulai berkembangnya tren tinggal di hunian vertikal terutama di CBD dan daerah premium seperti Kebayoran Baru, Pondok Indah, dan Kemang akibatnya terbatasnya lahan perumahan. Selain itu karena kemacetan lalu lintas Jakarta.

 

Corporate Marketing Director PT Intiland Development Tbk Susan Pranata mengatakan peluang pengembangan kondominium di Jakarta masih menarik dari sisi pengembang karena harga tanah di perkotaan yang terus naik terutama dalam 2 tahun hingga 3 tahun terakhir sehingga semakin banyak orang yang tidak dapat menjangkau harga landed house (rumah tapak) di lokasi yang strategis.

 

"Pengembangan yang dilakukan developer pasti sudah melihat target pasarnya, apa yang paling cocok dibangun pada lokasi tersebut, konsepnya kuat sehingga kalaupun harus bersaing dengan proyek lain tidak akan menjadi berat," katanya. 

 

Meyriana Kesuma, Manager Research & Consultancy Coldwell Banker Indonesia, mengatakan total pasokan kondominium sewa pada kuartal I/2012 berjumlah 11.782 unit. Dari jumlah tersebut 60% merupakan kondominium sewa di kawasan CBD, dan 40%nya kondominium sewa di kawasan nonCBD.

 

"Aktivitas apartemen sewa sangat aktif di wilayah pusat dan barat Jakarta akibat bertumbuhnya investasi yang cukup tinggi di kedua wilayah tersebut," ujarnya seperti dikutip Bisnis dalam paparan kinerja pasar properti kuartal I/2012, beberapa waktu lalu.

 

Dia menuturkan permintaan kondominium sewa paling tinggi dikontribusikan dari wilayah Selatan dan Barat Jakarta karena banyaknya perusahaan asing di wilayah tersebut serta infrastruktur yang cukup baik sehingga para ekspatriat cenderung memilih tinggal di kedua wilayah tersebut dibandingkan di sekitar CBD.

 

Berdasarkan kawasan, sambungnya, harga sewa kondominium pada kuartal pertama di kawasan CBD berkisar US$8,33 - US$37,40 per m2 per bulan. Sementara di kawasan non CBD harga sewa kondominium berkisar US$6,76 - US$36,57 per m2 per bulan. (Bsi)

 

 

BERITA INVESTASI PILIHAN REDAKSI:

TOPIK AKTUAL:

ENGLISH NEWS:


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Puput Jumantirawan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top