INDONESIA-CHINAPerdagangan bilateral capai Rp550,8 triliun

 
Febriany Dian Aritya Putri | 24 April 2012 18:27 WIB

 

JAKARTA: Perdagangan Indonesia-China  tahun ini diyakini mencapai US$60 miliar (Rp550,8 triliun) atau meningkat 27,65% dibandingkan dengan tahun lalu sebesar US$47 miliar karena hubungan kedua negara yang semakin dekat.
 
Ketua Umum Lembaga Kerjasama Ekonomi, Sosial dan Budaya Indonesia-China Sukamdani Sahid Gitosardjono mengatakan perdagangan terus meningkat signifikan setelah pada 1985 terjadi pemulihan hubungan antarkedua negara.
 
“Tahun ini, perdagangan Indonesia-China bisa mencapai US$60 mniliar. Inilah [peningkatan perdagangan] karena kemajuan hubungan bilateral Indonesia dan China,” jelasnya saat membuka Forum Ekonomi-Perdagangan Indonesia-China ke-13  hari ini.
 
Dia menuturkan pada 1985 tercatat perdagangan Indonesia-China sebesar US$333 juta. Lalu meningkat empat kali lipat lebih menjadi US$1,48 miliar pada 1990. 
 
Lalu, lanjutnya, pada 2000 tercatat perdagangan kedua negara sebanyak US$4,78 miliar dan 2005 mencapai US$16,79 miliar.
 
Kendati demikian, Sukamdani mengatakan neraca perdagangan Indonesia selalu mengalami defisit dengan China setelah 2003.
 
“Tahun ini Indonesia juga masih defisit, belum tahu seberapa besar. Indonesia selalu surplus sampai 2003, setelah itu turun terus karena selalu impor bahan baku. [Supaya neraca perdagangan berimbang] yang perlu dilakukan adalah China melakukan investasi di Indonesia,” papar Sukamdani.
 
Dia menuturkan China sebaiknya mau membangun pabrik pengolah bahan baku di Indonesia, selain investasi di infrastruktur.
 
“Diharapkan agar dapat ditingkatkan investasi dari China untuk membangun infrastruktur jalan, kereta api, pariwisata, pertanian, pangan, perkebunan, perikanan, dan lainnya,” jelasnya.
 
VP The Chinese People’s Association For Friendship With Foreign Country Feng Zuoku mengatakan kunjungannya ke Indonesia diikuti juga oleh 12 perusahaan yang tertarik berinvestasi dan bekerja sama dengan pengusaha lokal.
 
Dia menuturkan perusahaan-perusahaan itu di sektor properti, lingkungan hidup, medis, dan lainnya.
 
Dubes China untuk Indonesia Liu Jianchao mengatakan meningkatnya perdagangan Indonesia-China tidak lepas dari peranan Sukamdani yang bisa mendekatkan hubungan kedua negara hingga tahap seperti saat ini.
 
“Sukamdani memprakarsai hubugan kedua negara, bertindak sebagai pemecah kebekuan. Pada 1985 belum terbayangkan perdagangan Indonesia-China bisa seperti saat ini, dimana kedua negara juga memegang peranan penting di dunia,” katanya.
 
Pada Januari-Februari 2012, Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan nonmigas Indonesia dengan China mencapai US$1,47 miliar, atau jauh melebar dibandingkan dengan Januari-Februari 2011 sebesar US$982 juta.
 
Dalam dua bulan pertama tahun ini, ekspor nonmigas Indonesia ke China sebesar US$2,9 miliar sementara itu impor dari China mencapai hampir dua kali lipat yakni US$4,4 miliar.
 
Neraca perdagangan Indonesia sempat surplus dengan China pada Oktober 2011 sebesar US$106 juta, namun kembali defisit pada bulan berikutnya sebesar US$122 juta. (sut)

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top