Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lahan tanah sulfat masam kurang dioptimalkan

 
Yeni H. Simanjuntak
Yeni H. Simanjuntak - Bisnis.com 28 November 2011  |  19:57 WIB

 

JAKARTA: Pemanfaatan tanah sulfat masam di Tanah Air belum optimal baru 9% yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan produksi beragam komoditas budi daya perikanan di Tanah Air.
 
Profesor Riset Kementerian Kelautan dan Perikanan Andi Akhmad Mustafa mengatakan potensi tanah sulfat masam di Indonesia yang terbesar di dunia sekitar 6,6 juta hektare baru dimanfaatkan 612.000 hektare.
 
"Tambak tanah sulfat masam yang terlantar masih luas, lahan yang dimanfaatkan masih berproduktivitas rendah, dan komoditas yang dibudidayakan masih terbatas," ujarnya saat acara Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Akuakultur Kementerian Kelautan dan Perikanan hari ini.
 
Andi Akhmad merupakan pengajar Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Makassar. Menurutnya, pendayagunaan tambak tanah sulfat masam dapat dilakukan melalui pengelolaan tanah yang sesuai dengan karakteristik dan pemilihan lokasi yang tepat.
 
Dia menjelaskan jika tambak tanah sulfat masam itu diolah, maka dapat digunakan untuk budi daya seperti udang windu (penaeus monodon) dengan produksi yang memuaskan dan budidaya komoditas perikanan ikan payau.
 
Andi memaparkan kunci keberhasilan implementasi teknologi pendayagunaan tambak tanah sulfat masam yaitu ketersediaan data dan informasi karakteristik tanah yang lebih akurat.
 
Dia menuturkan pengelolaan tanah sulfat masam akan berdaya guna apabila dilakukan remediasi yang meliputi pengeringan, perendaman, dan pembilasan yang dilanjutkan dengan remediasi dengan cara pengapuran yang dilakukan berdasarkan karakteristik spesifik tanah.
 
Lahan tambak yang ada di Indonesia, katanya, berada pada tanah sulfat masam dengan karakteristik tanah berupa pH yang rendah (kurang dari 3,5) dan kandungan unsur hara makro (terutama fosfor) rendah, sehingga berdampak pada produktivitas yang rendah.
 
Akhmad menyarankan pengembangan lahan tambak dilakukan pada tambak yang ada dan tidak boleh dilakukan di kawasan konservasi serta tidak disarankan untuk mengkonversi kawasan mangrove menjadi tambak.
 
Hambatan implementasi penelitian itu, katanya, sedikit pengetahuan pembudidaya tambak mengenai karakteristik tanah sulfat masam dan pemahaman yang kurang tentang informasi geospasial. (sut)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top