Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kenaikan tarif cukai rokok perlu dipahami

JAKARTA: Pemerintah meminta pelaku industri rokok memahami keputusan naiknya tarif cukai rokok yang telah ditetapkan awal November sebagai upaya melindungi kesehatan masyarakat. Menkeu Agus D.W Martowardojo mengatakan proses penyusunan kebijakan
News Editor
News Editor - Bisnis.com 27 November 2011  |  16:38 WIB

JAKARTA: Pemerintah meminta pelaku industri rokok memahami keputusan naiknya tarif cukai rokok yang telah ditetapkan awal November sebagai upaya melindungi kesehatan masyarakat. Menkeu Agus D.W Martowardojo mengatakan proses penyusunan kebijakan naiknya tarif cukai hasil tembakau sudah selaras dengan roadmap. Penyesuaian tarif cukai dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan baik usaha kecil maupun skala besar. Sebelum peraturan ditetapkan, Agus mengaku telah melakukan konsultasi dengan pelaku pasar dan industri rokok. "Kami mengharapkan semua memahami kesehatan masyarakat harus digalang, ini untuk melindungi. Kita butuh komitmen dari semua pihak," ujarnya pada akhir pekan lalu. Pemerintah telah menetapkan kenaikan tarif cukai hasil tembakau dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 167/PMK.011/2011. Peraturan ini sekaligus merupakan perubahan ketiga atas PMK No.181/PMK.011/2009 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau. Kenaikan tarif cukai ini mendapat protes keras dari sejumlah pelaku industri. Salah satunya Forum Masyarakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi) yang telah menyalurkan aspirasinya ke DPR. Forum ini menganggap besaran kenaikan tarif bagi pengusaha kecil justru lebih tinggi dari pengusaha besar. Heri Susianto, Ketua Harian Formasi menjelaskan kenaikan tarif cukai Sigaret Kretek Mesin (SKM) untuk Golongan I A hanya 9,2%, sedangkan untuk SKM golongan II C yang diproduksi industri menengah dan kecil justru mencapai 38,2%. Dalam peraturan dijelaskan, untuk produksi SKT/SPT golongan II dibatasi antara 300 juta-2 miliar batang dari sebelumnya 400 juta-2 miliar batang. Golongan III maksimal 300 juta batang dari sebelumnya 400 juta batang.Pembatasa produksi, menurut Heri, telah 'memaksa' industri kecil beralih ke golongan yang lebih besar, setara dengan perusahaan besar. (01/tw)


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Lavinda

Editor : Nadya Kurnia

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top