China batasi pertambangan coking coal

SHANGHAI: China akan membatasi pertambangan coking coal (batu bara metalurgi), yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan baja (batu bara metalurgi). Peraturan tersebut segera diterbitkan National Energy Administration. China mengambil langkah
News Editor
News Editor - Bisnis.com 30 September 2011  |  16:18 WIB

SHANGHAI: China akan membatasi pertambangan coking coal (batu bara metalurgi), yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan baja (batu bara metalurgi). Peraturan tersebut segera diterbitkan National Energy Administration. China mengambil langkah itu dalam upaya meningkatkan pelestarian sumber daya alam termasuk logam dan bauksit dengan menindak penambangan ilegal dan membatasi ekspor komoditas tersebut. Perusahaan yang berniat meminta persetujuan pemerintah untuk mengeksplorasi batu bara akan melewati persyaratan dengan kriteria yang lebih ketat. Kebijakan tersebut akan semakin mendorong harga batu bara di China. Saat ini, harga domestik batu bara, bahan baku dalam pembuatan baja, meningkat dua kali lipat dalam enam tahun terakhir disebabkan peningkatan permintaan di tengah pertumbuhan ekonomi China saat ini. Harga batu bara yang dijual di Shanxi Coking Coal Group di China berada pada level 1.871 yuan (US$298) per ton sampai akhir bulan. "Naiknya harga telah memacu investor untuk mengejar aset batu bara di Mongolia dan wilayah lain. Aturan baru ini sepertinya bertujuan untuk mengetatkan kegiatan pertambangan, bukan membatasi hasil produksi yang akan menyebabkan harga selanjutnya meningkat," ujar Zhang Weifang, analis di lembaga riset Mysteel di Shanghai. Zhang menambahkan harga global yang lebih tinggi telah mendorong produsen batu bara untuk meningkatkan ekspor, bahkan hingga menyebabkan pasokan dalam negeri berkurang. Pada Agustus lalu, China mengekspor batu bara ke Korea Selatan, Korea Utara, dan Taiwan pada Agustus sebanyak 461.489 ton, lima kali lebih besar dibandingkan bulan sebelumnya.(01/tw) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bloomberg

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top