RI kekurangan pasokan amonium nitrat

JAKARTA: Pertumbuhan industri pertambangan dalam negeri sampai saat ini belum mampu diimbangi oleh pemenuhan pasokan peledak tambang jenis amonium nitrat (AN) produksi domestik. Hingga 2010, dari kebutuhan sekitar 480.000 metrik ton, pasokan domestik
Tusrisep
Tusrisep - Bisnis.com 29 September 2011  |  20:35 WIB

JAKARTA: Pertumbuhan industri pertambangan dalam negeri sampai saat ini belum mampu diimbangi oleh pemenuhan pasokan peledak tambang jenis amonium nitrat (AN) produksi domestik. Hingga 2010, dari kebutuhan sekitar 480.000 metrik ton, pasokan domestik AN hanya mencapai sekitar 39.000 metrik ton. Selebihnya didatangkan dari berbagai negara, seperti Mesir, Chili, dan China. AN adalah material untuk bahan peledak jenis low explosive yang umumnya digunakan untuk industri pertambangan, seperti batubara, tembaga, emas dan barang tambang lainnya serta industri semen. Menurut Direktur Utama PT Multi Nitrotama Kimia (MNK), Dharma Djojonegoro kebutuhan pasar dalam negeri Indonesia yang diprediksi akan mencapai 520.000 ton metrik per tahun pada 2012. “Tingginya ketergantungan pada produk impor membuat harga komoditas ini berfluktuasi tajam bahkan pada 2008, sempat melejit mencapai US$1.000 per ton, namun sempat anjlok menjadi US$200 per ton," kata dia, kemarin. Saat ini, dengan harga AN mencapai sekitar US$600 per ton sementara kebutuhan dalam negeri kebutuhan domestik mencapai 480.000 metrik ton, praktis jumlah yang diimpor sekitar 442.000 metrik ton. Bisnis mencatat perusahaan internasional yang memasok AN antara lain Orica Limited dan PT Dyno Nobel Australia. Orica diketahui menggandengn PT Armindo membenruk Kaltim Nitrate Indonesia (KNI). KNI menggandeng PT Rekayasa Industri membangun pabrik AN senilai US$173 juta yang berlokasi di Kaltim Industrial Estate, Bontang, Kalimantan Timur. Pembangunan pabrik juga tengah dilakukan PT  Dahana. Baik KNI maupun Dahana memiliki target produksi hingga 300.000 metrik ton per tahun pada 2011, namun hingga saat ini belum ada kejelasan kapan pabrik milik KNI dan Dahana beroperasi hingga pemenuhan AN domestik masih defisit dan bergantung pada impor.(api)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top