Investasi petrokimia RI paling rendah di Asia

JAKARTA: Perkembangan investasi di sektor petrokimia di Indonesia tergolong yang paling rendah dibandingkan dengan Negara-negara Asia lainnya dan menjadikan pasarnya tetap didominasi oleh produk impor.Business Monitpr International dalam laporannya menyebutkan
Hasan Zein Mahmud
Hasan Zein Mahmud - Bisnis.com 28 September 2011  |  19:42 WIB

JAKARTA: Perkembangan investasi di sektor petrokimia di Indonesia tergolong yang paling rendah dibandingkan dengan Negara-negara Asia lainnya dan menjadikan pasarnya tetap didominasi oleh produk impor.Business Monitpr International dalam laporannya menyebutkan Indonesia memang terus berinvestasi di sector petrokimia untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Akan tetapi, sebut laporan itu, industry akan tetap pada level yang kecil dalam skala Asia dan pasar petrokimia nasional diperkirakan akan terus didominasi oleh produk impor.“Dalam beberapa bulan terakhir terlihat investasi baru yang diharapkan akan mendukung ambisi untuk meningkatkan kemandirian terhadap produk petrokimia,” sebut laporan tersebut.Beberapa rencana investasi yang bakal direalisasikan dalam beberapa tahun ke depan seperti program ekspansi PT Chandra Asri Petrochemical, yang meliputi peningkatan kapasitas produksi etilena dari 620.000 ton per tahun menjadi 1 juta ton per tahun, membangun fasilitas ekstraksi butadiene 100.000 ton per tahun, dan ekspansi kapasitas polietilena dari 320.000 ton menjadi 540.000 ton per tahun.“Pelaksanaan proyek fasilitas butadiene akan dimulai pada kuartal III 2011 dengan jadwal penyelesaian 2013. CAP merencanakan untuk menyelesaikan ekspansi cracker etilena dan PE pada 2014.”Perusahaan lain, Indorama Ventures, juga merencanakan berinvestasi fasilitas produksi chips polyester dengan kapasitas 300.000 ton per tahun dengan perkiraan onstream pada 2013. Asahima Chemical juga akan meningkatkan kapasitas produksi pabrik caustic soda hingga 30% menjadi 500.000 ton per tahun dengan jadwal penyelesaian pada kuartal I 2013.Di sector pupuk, PT Pupuk Kalimantan Timur sedang membangun kompleks pabrik pupuk nitrogen skala besar di Bontang. Komplek PKT-V akan didesain untuk memproduksi 2.700 ton per hari amoniak dan 3.500 ton per hari urea dengan jadwal penyelesaian pada akhir 2013.Sementara itu, PT Pupuk Sriwidjaja merencanakan membangun dua fasilitas produksi urea di Jawa Timur dengan kapasitas total 2 juta ton per tahun. Ekspansi Pusri tersebut untuk memenuhi kebutuhan pupuk urea di Jawa Timur dan Jawa Tengah sebanyak 1,8 juta ton per tahun yang selama ini dipasok dari Kalimantan Timur dan Palembang.“Ekspansi kapasitas itu sangat penting untuk mengatasi kekurangan pasok yang menjadikan harga di pasar domestic tinggi dan mendorong terjadinya impor.”Kekurangan pasokan PP, misalnya, banyak dipengaruhi oleh penghentian operasi PT Polytama Propindo sejak Agustus 2010 yang telah berkontribusi meningkatkan impor. Polytama mengkontribusikan hasil produksinya sebesar 320.000 ton per tahun pada pasar domestic sebelum terhenti.Laju impor sedikit tertahan oleh hasil debottlenecking pada kilang milik CAP yang bisa meningkatkan produksi PP dari 360.000 ton menjadi 480.000 ton per tahun. Di sisi lain, Indonesia masih berharap pengurangan impor dari proyek Pertamina yang membangun pabrik PP baru dengan kapasitas 250.000 ton per tahun di Balongan dan Polytama yang akan ekspansi produksi menjadi 440.000 ton.Hanya saja, BMI meyakini berbagai ekspansi yang bakal dilakukan tidak akan cukup untuk mengurangi kebergantungan Indonesia dari impor PP. BMI juga melihat tidak ada cukup kemajuan yang sudah dibuat untuk memastikan ketercukupan bahan baku bagi setiap segmen industry petrokimia nasional.(api)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top