Swap pasokan gas dengan Singapura ditargetkan Oktober

JAKARTA: Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) menargetkan mekanisme swap (pertukaran) pasokan gas ke pembeli Singapura sudah terlaksana mulai Oktober tahun ini.Kepala BP Migas R. Priyono mengatakan hasil renegosiasi kontrak
Samantha Ardiansyah
Samantha Ardiansyah - Bisnis.com 28 September 2011  |  18:08 WIB

JAKARTA: Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) menargetkan mekanisme swap (pertukaran) pasokan gas ke pembeli Singapura sudah terlaksana mulai Oktober tahun ini.Kepala BP Migas R. Priyono mengatakan hasil renegosiasi kontrak penjualan gas dengan pembeli Singapura itu sudah mendapatkan suatu kesepakatan, yakni dilakukannya mekanisme swap untuk memenuhi kontrak ekspor ke Singapura, sekaligus memenuhi kebutuhan dalam negeri.Hanya saja, perjanjian jual beli gas (gas sales agreement/GSA) dari mekanisme swap tersebut masih menunggu persetujuan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh."Sudah ada kesepakatan [swap], dan sekarang sudah di meja menteri untuk disetujui. Tinggal itu saja. Kita inginnya [swap gas] jalan Oktober ini," ujarnya, hari ini.Dia menjelaskan dengan mekanisme swap tersebut, pembeli Singapura akan mendapatkan pasokan gas sebesar 100 MMscfd dari lapangan gas Gajah Baru di Laut Natuna yang dioperatori Premier Oil Natuna. Selain itu, pembeli Singapura juga akan mendapatkan pasokan gas dari Jambi Merang yang dioperatori JOB Pertamina Hulu Energi Hulu-Talisman.Di sisi lain, lanjutnya,  juga PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) juga mendapatkan tambahan pasokan gas sebesar 80 MMscfd dari ConocoPhillips (Blok Corriodor, Sumatra Selatan), dengan disepakatinya mekanisme swap tersebut. Produksi gas dari Blok Corridor, ConocoPhillips yang sebelumnya dipasok ke Singapura dialihkan ke Jawa melalui pipa South Sumatera West Java milik PT PGN Tbk."Ini kan ada pasokan gas ke Singapura dari Gajah Baru sesuai kontrak 4-6 tahun lalu. Tapi kan ga mungkin juga kita kirim gas ke Singapura, sedangkan ke domestik tidak. Makanya dilakukan swap."Menurut Priyono, dengan mekanisme swap tersebut, kontrak pasokan gas ke Singapura tidak terganggu dan volume pasokan gas domestik, terutama untuk pembangkit listrik PLN juga bertambah.Produksi gas dari Gajah Baru dan Jambi Merang tidak bisa langsung masuk ke Jawa dikarenakan ketiadaan infrastruktur pipanya.Terkait soal disparitas harga jual gas domestik dan ekspor yang terlalu tinggi dan disebut-sebut mengganjal mekanisme swap itu, dia membantah hal tersebut. "Harga tidak masalah. Singapura beli gasnya sekitar US$13-US$17 per MMbtu dan untuk domestik kita minta sekitar US$5-US$7 per MMbtu. Tapi itu tunggu persetujuan menteri," tutur Priyono.(api)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top