IPO sejumlah BUMN ditangguhkan

JAKARTA: Kementerian BUMN memilih menangguhkan rencana penawaran publik perdana (initial public offering/ IPO) sejumlah perusahaan milik pemerintah.
News Editor | 28 Desember 2010 07:29 WIB

JAKARTA: Kementerian BUMN memilih menangguhkan rencana penawaran publik perdana (initial public offering/ IPO) sejumlah perusahaan milik pemerintah.

Sebagai gantinya, Kementerian BUMN lebih memilih opsi penerbitan obligasi sebagai sumber pendanaan perusahaan. Sementara itu, bagi perusahaan yang akan dilepas ke pasar, pemerintah akan mencari momentum yang paling memungkinkan guna meraup dana yang maksimal.

Deputi Menteri BUMN Bidang Privatisasi dan Restrukturisasi Pandu Djajanto mengatakan jika perusahaan hanya ingin mencari dana Rp300 miliar hingga Rp600 miliar, akan lebih baik menerbitkan obligasi.

Kami mengupayakan agar saham pemerintah bertahan seperti saat ini, dan tidak berkurang hanya karena ingin mencari dana yang tidak terlalu besar, sekitar Rp300 miliar-Rp600 miliar, ujarnya hari ini.

Menurut Pandu, BUMN bisa melaksanakan IPO jika dana yang dicari memang masuk kategori besar dan memungkinkan kepemilikan pemerintah terdilusi. Untuk opsi ini, Kementerian BUMN kembali mengkaji sejumlah perusahaan yang mungkin bisa IPO.

Beberapa perusahaan yang direncanakan akan diprivatisasi melalui IPO di antaranya PT Jasindo (Persero), PT Semen Baturaja (Persero), PT Industri Telekomunikasi, serta PT Hutama Karya (Persero). Di luar itu, BUMN yang dipastikan akan IPO adalah PT Garuda Indonesia (Persero).

Berdasarkan catatan Bisnis, Semen Baturaja berencana IPO dan menargetkan perolehan dana sebesar Rp1 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun pabrik semen baru dengan kapasitas produksi sebesar 1,5 juta ton per tahun.

Sementara itu, Jasindo menargetkan bisa meraup dana Rp500 miliarRp600 miliar dalam IPO yang direncanakan dilakukan pada tahun depan. Dana tersebut akan dipakai untuk memperkuat modal kerja perseroan.

Hutama Karya juga bersiap melaksanakan IPO untuk menambah modal perseroan. Namun demikian, perusahaan ini masih diminta menyelesaikan masalah legal terkait dengan salah satu ruas proyek JORR.

Pandu menambahkan meskipun mengkaji kembali, pihaknya masih membuka kemungkinan privatisasi BUMN melalui IPO pada tahun depan. Bagaimanapun, kita harus memanfaatkan momen pada kuartal I/ 2011, ujar Pandu.(api)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top