Permintaan benih jagung diprediksi naik 30%

JAKARTA: Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) memprediksikan permintaan benih jagung pada 2011 akan meningkat tajam mencapai 30% karena komoditas ini akan digunakan sebagai bahan baku energi dan pangan.
Arif Budi Winarto | 23 Desember 2010 14:19 WIB

JAKARTA: Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) memprediksikan permintaan benih jagung pada 2011 akan meningkat tajam mencapai 30% karena komoditas ini akan digunakan sebagai bahan baku energi dan pangan.

Ketua Umum Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) Elda D. Adiningrat menyatakan prediksi ini berdasarkan pada situasi pasar dunia yang menyerap jagung sangat besar. "Saat ini kebutuhan jagung tidak hanya sebagai pakan, juga sebagai bahan baku ethanol," katanya di Jakarta hari ini.

Dia menjelaskankonsumsi yang tinggi ini linier dengan kebutuhan benih jagung pada 2011. Elda memperkirakan pada tahun depan akan terjadi perubahan sistem pertanian baik dari sistem pembenihan maupun dari pemupukan. Hal tersebut terjadi karena sebagai upaya adaptasi perubahan musim yang seringkali ekstrim. Dia mengatakan kebutuhan penemuan benih unggul yang tahan terhadap iklim sangat penting.

Bisnis mencatat sepanjang 2009-2010, pemerintah memberikan subsidi benih jagung hibrida dari cadangan benih nasional. Kementerian Pertanian telah mengalokasikan subsidi benih untuk jagung sebanyak 4.266 ton untuk areal tanam seluas 225.534 hektare, dan untuk bantuan benih dari cadangan benih nasional telah digelontrokan sebanyak 5.595 ton untuk areal tanam seluas 353.000 hektare. Sementara untuk alokasi bantuan langsung benih unggul sebanyak 7.610 ton untuk areal seluas 507.333 hektare.

Direktur Budidaya Tanaman Serelia Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Siwi Purwanto menyatakan dalam rangka peningkatan produksi jagung nasional, pemerintah mempercepat pembagian benih jagung hibrida kepada seluruh daerah sentra produksi. Menurut dia, saat ini total luasan lahan untuk penanaman jagung mencapai 633.000 hektare. Dia menyatakan pada masa panen mendatang, produksi jagung diharapkan bertambah 3 juta ton. Siwi memperkirakan tambahan produksi akan didapatkan dari sejumlah daerah penghasil, seperti Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Timur. Dia menjelaskandengan percepatan pembagian bibit jagung hibrida, maka selain diharapkan dapat meningkatkan produksi, juga menambah pendapatan petani.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dewan Jagung Nasional Maxdeyul Sola menilai upaya pemerintah untuk membagikan benih jagung hibrida sangat tepat. "Meski demikian, tetap harus diimbangi dengan pemberian teknologi varietas," ujarnya.

Jika tidak diimbangi dengan teknologi varietas, menurut dia, tujuan peningkatan produksi sulit tercapai. Teknologi varietas harus memaksimalkan ketepatan waktu dan harga jual. Dengan demikian, jagung dapat dimaksimalkan di dalam negeri, sehingga mengurangi impor. Maxdeyul menjelaskan pabrik pakan masih terus mengimpor karena harga dan volume produksi jagung di dalam negeri tidak menentu. Adapun pabrik pakan berkapasitas besar membutuhkan pasokan yang stabil.

Meski demikian, Maxdeyul mengungkapkan sampai saat ini produksi jagung nasional masih belum dapat mencapai terget. Dia menjelaskan berdasarkan Angka Ramalan III Badan Pusat Statistik produksi jagung tahun 2010 hanya sebanyak 17,9 juta ton. "Dapat dikatakan produksi jagung 2010 dipastikan tidak dapat mencapai target yang ditetapkan sebanyak 19,8 juta ton," ujarnya.

Dia mengatakan dengan tidak tercapainya target produksi jagung nasional sebanyak 19,8 juta ton, maka untuk memenuhi kebutuhan jagung industri pakan ternak, terpaksa masih dilakukan impor jagung. Dia menginformasikan hingga pertengahan 2010, impor jagung yang dilakukan pabrikan pakan ternak telah mencapai 800.000 ton.(bas)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top