Terjebak di London (2)

LONDON: Cuaca di Eropa dilaporkan makin dingin. Penutupan bandara dan moda transportasi lain masih berlanjut. Bukan hanya di Inggris tetapi hampir di seluruh Eropa.
Ria Indhryani
Ria Indhryani - Bisnis.com 21 Desember 2010  |  13:55 WIB

LONDON: Cuaca di Eropa dilaporkan makin dingin. Penutupan bandara dan moda transportasi lain masih berlanjut. Bukan hanya di Inggris tetapi hampir di seluruh Eropa.

Saluran televisi skyNews menayangkan kondisi di beberapa bandara di negara kawasan euro ini. Situasinya tetap sama dengan dua hari sebelumnya, Sabtu dan Minggu. Menurut ramalan cuaca kondisi ini akan berlanjut sampai usai Natal.Bahkan, nampak penumpang di bandara Paris yang sudah menginap 48 jam hilang kesabaran. Mereka meminta kejelasan atas nasib tiket yang sudah dibeli.Di belahan lain di Eropa, diberitakan cuaca buruk ini menewaskan seorang ibu dengan dua anaknya di dalam rumah. British Airways membatalkan hampir separuh penerbangan hari ini.Tayangan dengan tittle BIG FREEZE itu juga mempertanyakan tentang kesiapan pengelola bandara Heathrow London menghadapi cuaca ekstrim seperti ini. Pasalnya, di London belum pernah sampai hujan salju seburuk ini. Kemungkinan pihak bandara belum ada sistem atau mekanisme mengatasi ratusan ribu penumpang yang terdampar di bandara itu.Ketidakjelasan situasi ini melanda rombongan peliput acara penandatanganan restrukturisasi utang antara Garuda Indonesia dan European Export Credit Agency (ECA). Acara berlangsung pada Jumat, 17 Desember 2010 pukul 15.00 waktu London. Pada hari yang sama, Dirut Garuda Indonesia Emirsyah Satar langsung terbang ke Jakarta via Singapura sekitar pukul 22.00. Ini kloter pertama.Masalah pun muncul. Hujan salju yang mulai turun sejak Jumat ternyata tidak berhenti, malahan makin deras. Akibatnya, bandara internasional Heathrow pun ditutup. Begitu juga beberapa tempat di daratan Eropa. Kloter kedua yang terdiri dari Direktur Keuangan Garuda Elisa Lumbantoruan, Kepala Proyek Restrukturisasi Utang Garuda Handrito Hardjono, dan VP Legal Garuda Ike Andriani sempat terhambat 15 jam pada Sabtu, sebelum akhirnya berhasil 'lolos' pada Minggu siang dengan Singapore Airline (SQ).Kloter yang terakhir tinggal VP Corporate Communications Garuda Indonesia Pujobroto, penulis, dan fotografer Kompas Totok Wijayanto. Tiket yang sudah di tangan, terbang dengan KLM ke Amsterdam Minggu pukul 06.30, sudah lewat setelah ada kepastian Heathrow tutup.Pada Senin pagi, ada sedikit titik terang rombongan akan berangkat via bandara alternatif Gatwick, terbang dengan Emirates transit di Dubai, take off pukul 13.40.Sebuah travel agent mencoba untuk membantu mencarikan jalan keluar dari London. Namun, kabar gembira itu tidak berlangsung lama. Pada siang hari dapat berita kalau bandara terbesar kedua di Inggris itu juga ditutup akibat salju.Apa mau dikata. Cuaca tidak bersahabat. Akhirnya, diputuskan untuk langsung ke bandara Heathrow dengan harapan ada penjualan tiket. Koper dan barang bawaan dikeluarkan dari hotel, tetapi belum check out. Jika ternyata tidak dapat tiket, rencananya kembali ke Hyatt Regency The Churchill. Menurut Harold Tobing, staf lokal Garuda Indonesia di London, tidak ada salahnya dicoba ke bandara. Nanti jika tidak ada bisa kembali ke hotel.Akhirnya rombongan pun berangkat dari hotel menggunakan kendaraan milik staf yang sudah puluhan tahun di London ini. Sepanjang perjalanan terlihat warna putih di mana mana. Taman Hyde Park yang biasanya terlihat hijau dan sejuk, semuanya memutih dan beku.Makin ramaiHeathrow terlihat makin padat. Berbeda jauh dari sehari sebelumnya. Bahkan, untuk masuk ke kawasan parkir saja sudah macet panjang. Untungnya Harold segera berinisiatif untuk masuk ke Terminal 3 melalui subway atau Heathrow Express."Kita parkir saja di Terminal 4, terus naik Heathrow Express ke Terminal 3. Kalau kita antre di terminal tiga bisa berjam-jam. Penumpang makin membludak sepertinya," papar pria dengan dua putra ini.Ternyata, bukan hanya makin ramai, tetapi makin ketat. Sebelum masuk ke terminal, kita ditanya apa sudah ada tiket. Bisa dibayangkan, calon penumpang yang tidak pedang tiket, harus berdingin-dingin ria di luar terminal. Akhirnya, rombongan bisa masuk setelah dapat meyakinkan petugas bahwa kita memiliki tiket ke Amsterdam.Wow, ternyata Heathrow makin ramai dan padat. Antrean mengular di mana-mana. Posisi ticketing yang sehari sebelumnya masih sepi, dijadikan tempat mengumpulkan bagasi. Kemungkinan bagasi itu milik penumpang SQ yang no show atau tidak datang pada saat penerbangan sudah take off. Kumpulan bagasi itu sudah seluas lapangan bulutangkis. Kita mencoba menanyakan ke sejumlah penumpang yang tengah antre di loket SQ. Ternyata mereka sudah memegang tiket satu atau dua hari sebelumnya. Untuk memastikan, kita pun menanyakan ke front desk. Harapan untuk mendapatkan tiket SG pun pudar karena mereka belum membuka penjualan baru.Sebenarnya sejak kemarin, Pujobroto sudah berpikiran untuk naik kereta sampai ke Amsterdam. Katanya cuma 2 jam. Harold pun menawarkan untuk mengantar keluar dari London dengan menumpang mobil miliknya. Namun, alternatif itu tidak bisa dilaksanakan karena penulis dan rekan Kompas tidak memiliki visa Schengen yang berlaku untuk negara euro."Jika kita paksakan untuk naik jalan darat tanpa ada Schengen malah nanti menyulitkan pihak Garuda yang ada di Amsterdam. Saya tidak masalah, tetapi bagaimana dengana rekan wartawan. Toh kita yang mengundang mereka," tegas Pujobroto.Kami pun mencoba ke loket maskapai lain seperti Malaysia Airline, Qatar Airline, Emirates, Itihad. Maskapainya apa saja yang penting bisa keluar dari London. "Bahkan ada rekan di London yang akan ke Jakarta, tetapi lewat Riyadh Arab Saudi, baru terbang ke Jakarta. Yang penting kita coba dulu," tutur Harold.Alhasil semua tidak ada yang menjual tiket. Situasi pun makin rumit. Kami juga mencoba untuk memastikan tiket KLM ke Amsterdam yang masih berlaku. Hanya saja, staf yang seharusnya ada di tempat, ternyata sudah dua hari tidak datang."Sudah 2 hari tidak ada staf KLM yang datang," kata petugas Korean Air yang ada disamping loket KLM. Kami juga mencoba semua saluran informasi untuk mengetahui jadwal penerbangan. Telepon, Internet, televisi, terus dipantau. Sampai berita ini ditulis, Selasa pukul 06.00 atau 13.00 waktu Jakarta, belum ada kepastian jam berapa bisa berangkat keluar London. Hari ini rencananya rombongan akan ke bandara pukul 8.30 untuk mencoba mencari tiket. Semoga lebih baik dari kemarin. Amin. (mfm)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top