Pemerintah perlu lahan baru kedelai 500.000 hektare

BANDA ACEH: Pemerintah perlu tambahan lahan seluas 500.000 hektare untuk mengamankan swasembada kedelai pada 2014.
News Editor | 12 Desember 2010 08:51 WIB

BANDA ACEH: Pemerintah perlu tambahan lahan seluas 500.000 hektare untuk mengamankan swasembada kedelai pada 2014.

Menteri Pertanian Suswono mengungkapkan upaya membuka lahan potensial sebagai lahan tanaman pangan diperbolehkan tetapi tetap harus menjaga hutan lindung.Tidak apa-apa sepajang lahan itu kita buka itu bukan area yang sangat vital. Menurut saya tidak apa-apa lebih baik kita amankan pangan kita namun masalah lingkungan harus diperhatikan, Kata Menteri Pertanian Suswono saat kujungan kerja di provinsi Aceh, pekan iniSuswono memperkirakan, untuk keamanan pangan swasembada kedelai pada 2014 mendatang diperkirakan perlu lahan sekitar 400.000 hingga 500.000 hektare tambahan lahan. Kami sangat yakin kalau ada perlusan lahan nanti ini bisa kita capai. Dia mengatakan, untuk mendukung pengembangan lahan pertanian kedelai, pemerintah pusat menyalurkan benih kedelai gratis yang cocok untuk wilayah masing-masing. Selain Provinsi Aceh, kawasan Merauke merupakan salah satu solusi wilayah yang besar untuk memproduksi hasil pangan yang cukup besar.Wilayah itu sebagai solusi, daerahnya subur malah kalau kita tidak menanam di Merauke dosa kita, diberikan setiap hari sinar matahari itu harus mamfaatkan, ujarnya. Departemen Pertanian telah menetapkan empat komoditas sebagai sasaran swasembada pangan pada lima tahun mendatang yakni padi, kedelai, gula dan daging sapi. Selain kedelai, Provinsi Aceh punya potensi untek mengembangkan daging sapi, dinilai Aceh memproduksi daging lokal.Suswono mengingatkan, pemerintah harus serius mengembangkan potensi ini, kerana Indonesia pernah menjadi eskportir daging terbesar pada 1976 silam hingga 1990 ketika mulai pertama kali impor sekitar 18 ribu ekor.Kami harus kembangkan potensi ini, tapi tentu saja memang jangan sampai sapi betina produktif dipotong. Gara-gara betina produktif dipotong kita menjadi akhirnya impor 600 ribu ekor per tahun, ujar Suswono.(mmh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top