Bisnis.com, JAKARTA - Premi imbal hasil obligasi korporasi dolar Indonesia mengalami lonjakan bulanan terbesar dalam 2 tahun terakhir akibat kekhawatiran investor terhadap kebijakan fiskal pemerintah.
Data yang dikutip dari Bloomberg pada Rabu (2/4/2025) mencatat rata-rata premi imbal hasil yang diminta investor untuk menahan kredit negara naik lebih dari 35 basis poin pada Maret 2025. Sementara itu, biaya asuransi utang Indonesia terhadap gagal bayar mencapai level tertinggi sejak November 2023, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas keuangan negara.
Pemotongan anggaran yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto untuk mendanai program makan gratis serta pengalihan dividen perusahaan milik negara ke dana kekayaan negara yang baru didirikan, Danantara, disebut menjadi faktor utama yang memicu pertanyaan mengenai kebijakan fiskal pemerintah. Kekhawatiran tersebut diperparah oleh perlambatan konsumsi domestik dan pelemahan rupiah yang menyentuh level terendah sejak krisis keuangan Asia.
Analis dari Australia & New Zealand Banking Group Viacheslav Shilin dan Ting Meng menilai kebijakan fiskal yang ekspansif tanpa strategi pendapatan yang kredibel berisiko menciptakan peluang "shorting" yang langka di Asia bagi para pedagang. Mereka menambahkan bahwa aksi jual rupiah terjadi sebagai bentuk respons investor terhadap ketahanan anggaran Indonesia.
Lonjakan spread kredit Indonesia tercatat lebih tinggi dibandingkan peningkatan 20 basis poin di negara-negara Asia Tenggara lainnya dan hampir tiga kali lipat dari pelebaran obligasi di Asia, kecuali Jepang.
Baca Juga
Sebagai perbandingan, rata-rata premi imbal hasil obligasi berdenominasi dolar dari penerbit Thailand naik sekitar 17 basis poin pada Maret, sedangkan di Malaysia meningkat 11 basis poin.