Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jasa Pertambangan Menggeliat, PP Presisi (PPRE) Patok Pendapatan Tumbuh 30% 2024

PT PP Presisi Tbk. membidik pertumbuhan laba hingga 30 persen seiring dengan meningkatnya kontribusi dari lini bisi jasa pertambangan.
Batching plant dan armada ready mix beton PT Presisi Tbk./ppre
Batching plant dan armada ready mix beton PT Presisi Tbk./ppre

Bisnis.com, JAKARTA - PT PP Presisi Tbk. membidik pertumbuhan pendapatan hingga 30% seiring dengan meningkatnya kontribusi dari lini bisi jasa pertambangan.

Direktur Utama PP Presisi I Gede Upeksa Negara menjelaskan pihaknya berfokus pada pada bisnis jasa pertambangan seiring dengan arah program hilirisasi pemerintah di sektor pertambangan yang meningkatkan permintaan proyek-proyek smelter.

Dia menuturkan, untuk mencapai tujuan tersebut pihaknya telah menyusun strategi melalui peningkatan kapabilitas SDM khususnya yang menunjang kebutuhan pertambangan, peningkatan produktifitas alat dengan dukungan teknologi, dan peningkatan kapasitas keuangan, serta peningkatan tata kelola perusahaan.

“Dengan perolehan kontrak baru yang kami dapatkan pada jasa pertambangan di kuartal III/2023, ini kami optimistis akan mencapai target laba yang diharapkan pada 2023, dan kami juga menargetkan peningkatan pendapatan kurang lebih 20% sampai dengan 30% pada 2024," ujarnya dalam keterangan resminya, Kamis (21/12/2023).

Direktur Keuangan, Manrisk & Legal PP Presisi Arif Iswahyudi menuturkan
perseroan telah membidik beberapa pasar potensial pada jasa pertambangan yang didapat secara berkesinambungan.

Selain, fokus pada jasa pertambangan PP Presisi juga tetap bersinergi dengan PT PP sebagai induk perusahaan pada bisnis jasa konstruksi khususnya infrastruktur.

Adapun, pencapaian kontrak baru pada kuartal III/2023 mengalami peningkatan 69% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp4,9 triliun.

Kontribusi pada lini bisnis jasa pertambangan mendominasi sebesar 78%, sedangkan kontribusi pendapata pada jasa pertambangan juga mengalami peningkatan menjadi 48%, pekerjaan sipil 46%, dan sisanya dari bisnis pendukung sebesar 6% dibandingkan tahun.

“Selain itu saat ini kami juga melakukan financial strategi dengan beberapa opsi skema keuangan melalui pembiayaan jangka panjang atau penerbitan obligasi maupun dengan skema pembiayaan lainnya yang akan kami gunakan untuk menambah fleet pada jasa pertambangan yang dibutuhkan seiring dengan peningkatan dan proyeksi kontrak baru," ungkapnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Muhammad Ridwan
Editor : Muhammad Ridwan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper