Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekonomi China Kuartal II/2023 Tak Sesuai Prediksi, Ekonom: Perlu Lebih Banyak Stimulus

PDB China tumbuh 6,4 persen pada kuartal II/2023 (yoy) yang lebih lemah dari perkiraan. Hal ini memicu seruan bagi China untuk memberikan lebih banyak stimulus.
Salah satu warga negara China berjalan di taman dengan tetap memakai masker seiring meningkatkan kasus Covid-19 di negara tersebut. / Bloomberg.
Salah satu warga negara China berjalan di taman dengan tetap memakai masker seiring meningkatkan kasus Covid-19 di negara tersebut. / Bloomberg.

Bisnis.com, JAKARTA - Biro Statistik Nasional China pada Senin (17/7/2023) melaporkan bahwa produk domestik bruto (PDB) tumbuh 6,3 persen pada kuartal II/2023 (year-on-year/yoy) lebih lemah dari perkiraan. 

Mengutip Bloomberg, Senin (17/7/2023) angka tersebut lebih rendah dari perkiraan ekonom Bloomberg yang sebesar 7,1 persen. Angka PDB tersebut menunjukan lemahnya belanja konsumen dan pasar properti, sedangkan produksi industri meningkat. 

Kepala ekonom di Guotai Junan Hong Kong Ltd., Hao Zhou mengatakan bahwa perlambatan ini disebabkan oleh konsumsi yang memerlukan dukungan kebijakan di sisi permintaan. 

“Kami percaya penurunan suku bunga lebih lanjut kurang lebih diperlukan.” jelasnya.  

Pada tahun ini, China telah menetapkan target pertumbuhan PDB yang moderat sebesar 5 persen. Namun, negeri tirai bambu tersebut menghadapi rentetan tantangan ekonomi seperti ancaman inflasi, menurunnya ekspor dan sektor properti yang berada dalam krisis. 

Bank sentral China (PBOC) pada Juni telah memangkas suku bunga acuan dan menahan untuk tidak melakukan pelonggaran kebijakan. Namun, banyak analis yang memperkirakan pengetatan akan dilakukan dalam beberapa bulan mendatang. 

Proyeksi kedepannya

Biro Statistik Nasional China mengatakan dalam pernyataan bahwa sementara ekonomi pulih, situasi politik dan ekonomi global dinilai rumit. Pemulihan ekonomi domestik dan fondasi pembangunan juga masih belum kokoh. 

Xing Zhaopeng, ahli strategi senior China di Australia & New Zealand Banking Group Ltd., mengatakan bahwa kesalahan data mungkin mendorong para pejabat untuk mempercepat pengeluaran fiskal untuk mendorong investasi.

“Sudah banyak sinyal termasuk konferensi antara pemerintah dengan investor asing dan pengusaha, yang menunjukkan kebijakan tindak lanjut akan datang,” jelasnya, menekankan pengeluaran fiskal akan menjadi fokus utama dalam dua minggu ke depan. 

Naiknya suku bunga AS dan tingkat utang yang tinggi dalam ekonomi China, membatasi ruang lingkup PBOC untuk melakukan langkah-langkah pelonggaran yang agresif. 

Beberapa ekonom juga berpendapat bahwa kepercayaan bisnis dan konsumen yang lemah mengurangi efektivitas stimulus moneter, dan menyerukan kebijakan fiskal untuk memainkan peran yang lebih besar dalam perekonomian. 

Investor mungkin juga menantikan pertemuan badan pembuat keputusan tertinggi Partai Komunis pada akhir Juli untuk memberikan petunjuk penting mengenai kebijakan ekonomi ke depan. 

Xing juga mengatakan bahwa mungkin ada langkah-langkah fiskal yang diumumkan sebelum pertemuan Politbiro.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper