Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tiga Smelter Baru Senilai Rp40,43 Triliun Bakal Hadir di Sulsel

Tiga pabrik pemurnian nikel atau smelter baru bakal hadir di Sulawesi Selatan (Sulsel) dengan total investasi Rp40,43 triliun.
 Tiga pabrik pemurnian nikel atau smelter baru bakal hadir di Sulawesi Selatan (Sulsel) dengan total investasi ditaksir mencapai US$2,69 miliar atau sekitar Rp40,43 triliun./Istimewa
Tiga pabrik pemurnian nikel atau smelter baru bakal hadir di Sulawesi Selatan (Sulsel) dengan total investasi ditaksir mencapai US$2,69 miliar atau sekitar Rp40,43 triliun./Istimewa

Bisnis.com, MAKASSAR - Tiga pabrik pemurnian nikel atau smelter baru bakal hadir di Sulawesi Selatan (Sulsel) dengan total investasi ditaksir mencapai US$2,69 miliar atau sekitar Rp40,43 triliun. 

Ketiganya adalah: smelter milik PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) di Kabupaten Luwu, smelter milik PT Bumi Resources Minerals (BRM) di Kabupaten Luwu Timur, dan pengembangan smelter milik PT Vale Indonesia di Kabupaten Luwu Timur.

Site Manager PT BMS Zulkarnain mengatakan, perusahaannya kini tengah membangun smelter di Desa Karang-karangan, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu dengan nilai investasi mencapai US$191 juta.

Anak perusahaan Kalla Group ini bahkan akan mulai mengoperasikannya pada akhir 2023.

Saat ini proyek tahap 1 tengah dikerjakan dengan membangun dua pabrik pengolahan bijih nikel dan beberapa infrastruktur pendukung, antara lain pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang digunakan untuk memasok listrik ke smelter, saluran udara tegangan tinggi (SUTT) sebagai jalur listrik dari PLTA ke smelter, dan akses pelabuhan.

Progres pembangunan dua pabrik pun telah mencapai 50 persen, dengan rincian pabrik pertama telah rampung 80 persen dan pabrik kedua baru rampung sekitar 10 persen. Pabrik pertama rencananya mulai dioperasikan pada September 2023.

"Ya pabrik pertama kira rencanakan sudah beroperasi tahun ini, kalau untuk pabrik kedua kira upayakan bisa beroperasi pada pertengahan 2024 mendatang," ungkap Zulkarnain saat dihubungi Bisnis, belum lama ini.

Kapasitas pabrik pertama mencapai 330.000 metrik ton feronikel per tahun. Sedangkan pabrik kedua diproyeksi menghasilkan 40.000 metrik ton nikel sulfat per tahun.

"Untuk bijih nikel sendiri kita dapatkan dari beberapa opsi yang berasal dari Sulawesi Tenggara, misal dari Kolaka dan Kolaka Utara," tambahnya.

Tidak hanya sampai pada proyek tahap 1, PT BMS juga berencana menambah smelter pada proyek tahap 2 yang kemungkinan mulai dikerjakan 2024 setelah pabrik kedua pada proyek tahap 1 rampung.

Pada proyek tahap 2, akan dibangun empat pabrik yang diproyeksi memakan investasi mencapai Rp6 triliun.

"Kita belum bisa pastikan berapa nilai investasinya untuk proyek tahap 2, tapi kalau dihitung-hitung, satu pabrik itu bisa menelan sampai Rp1,5 triliun. Berarti kalau sampai empat pabrik, artinya sekitar Rp6 triliun," jelasnya.

Untuk jangka panjang, PT BMS berharap pihaknya bisa mendirikan 14 pabrik hingga 2030 mendatang.

Namun, Zulkarnain belum bisa memastikan apakah target tersebut akan diaplikasikan di Luwu atau daerah lain.

Plt Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulsel Muhammad Saleh mengakui jika perkembangan industri smelter di Sulsel saat ini terus berkembang.

Selain PT BMS di Luwu, perusahaan lain yang juga tengah menjajaki pembangunan pabrik nikel adalah PT Bumi Resources Minerals (BRM).

Perusahaan yang rencananya akan membangun pabrik di Kabupaten Luwu Timur ini bekerjasama dengan China Nonferrous Metal Industry's Foreign Engineering and Construction (NFC) untuk menanamkan modal sebesar US$700 juta.

"Smelter akan memiliki kapasitas produksi sebesar 600.000 metrik ton nikel per tahun dan akan memproduksi nikel pig iron dan feronikel," papar Saleh.

PT Vale juga akan segera mengembangkan smelter di Sorowako, Luwu Timur mulai tahun ini, bekerjasama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Company atau Huayou, Vale mengembangkan smelter berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk mengolah bijih nikel limonit.

Selanjutnya, smelter milik PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) yang tengah dibangun di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

PT BMS akan mengolah bijih nikel limonit menjadi produk Mixed Hydroxide Precipitate atau MHP dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 60.000 metrik ton produk nikel. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Nancy Junita
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper