Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kadin Beberkan Tips Agar Indonesia Surplus Neraca Dagang dengan Thailand dan Laos

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengusulkan sejumlah cara agar Indonesia dapat meraih surplus neraca perdagangan dengan Laos dan Thailand.
Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid usai acara konsultasi AEM-Asean BAC di Magelang, Jawa Tengah, Rabu (22/3/2023). Bisnis/Rahmi Yati. Kadin Beberkan Tips Agar Indonesia Surplus Neraca Dagang dengan Thailand dan Laos
Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid usai acara konsultasi AEM-Asean BAC di Magelang, Jawa Tengah, Rabu (22/3/2023). Bisnis/Rahmi Yati. Kadin Beberkan Tips Agar Indonesia Surplus Neraca Dagang dengan Thailand dan Laos

Bisnis.com, MAGELANG – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia membeberkan sejumlah cara agar Indonesia dapat mencatatkan surplus neraca perdagangan dengan dua negara Asean yakni Laos dan Thailand.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) berambisi untuk meraih surplus neraca perdagangan dengan Thailand dan Laos.  Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid mengatakan pelaku industri harus ikut serta mendukung ambisi pemerintah tersebut.

"Yang mesti terjadi adalah kita push perdagangannya lebih besar lagi. Tetapi kita bisa lakukan dua [cara], satu berdagang [dan] satu investasi," kata Arsjad usai acara konsultasi AEM-Asean BAC di Magelang, Jawa Tengah, Rabu (22/3/2023).

Arsjad mengatakan, agar dapat mencatatkan surplus neraca perdagangan, tidak bisa hanya dilakukan dengan memacu transaksi ekspor-impor dengan negara mitra. Menurutnya, upaya lain perlu ditempuh yakni dengan mengajak mereka Thailand dan Laos berinvestasi di Tanah Air atau sebaliknya.

Dia pun mencontohkan praktik yang selama ini dilakukan Indonesia dengan Vietnam, Menurutnya, kedua negara selama ini bekerja sama dalam hal perdagangan dan investasi.

"Di Vietnam [misalnya] terkait industri perikanan. Kita bisa mengundang mereka untuk berinvestasi di Indonesia dan membangun industri perikanan," ucap dia.

Sementara dengan Thailand sendiri, Arsjad melihat telah ada diskusi antara perusahaan terutama di sektor strategis yakni otomotif.

"Misalnya mereka perlu baterai, kita punya dan bisa menyediakan baterainya, kita ada bauksit untuk aluminumnya, kan kendaraan harus lebih ringan lagi. Untuk itu bisa gunakan bauksit kita," tambahnya.

Sebelumnya Arsjad juga menyebut salah satu strategi yang bisa dilakukan Indonesia untuk menarik investasi adalah lewat sektor otomotif seperti kendaraan listrik.

Menurutnya, Indonesia mempunyai banyak mineral seperti nikel, bauksit, dan lainnya yang bisa dikerja samakan dengan negara lain.

"Ini juga bisa menjadi intra-Asean investment, bisa saling berinvestasi," tutup dia.

Adapun, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga mengatakan selama ini, neraca perdagangan Indonesia terbilang surplus terhadap hampir semua negara Asean, kecuali kedua negara yakni Thailand dan Laos.

“Dari 9 negara anggota Asean di luar Indonesia, kita cuma sedikit ada defisit dengan Thailand dan Laos. Dengan negara di Asean lainnya kita selalu surplus,” kata Jerry dalan media briefing AEM Retreat di Magelang, Jawa Tengah, Selasa (21/3/2023).

Untuk itu, dia berharap nantinya lewat forum AEM Retreat, Indonesia bisa membahas optimalisasi perdagangan dengan Thailand dan Laos.

Kendati Jerry menyebut defisit dengan Laos tak begitu besar karena volume perdagangannya memang relatif lebih kecil dibandingkan dengan negara-negara anggota Asean lainnya, diharapkan volume perdagangan itu tetap surplus.

Apalagi, sambung Jerry, selama lima tahun terakhir neraca dagang Indonesia selalu surplus dengan mayoritas negara Asean.

Dia memerinci nilai perdagangan dengan negara Asean sepanjang 2022 mencapai US$ 111,7 miliar. Nilai ekspor mencapai US$61,5 miliar dan impor senilai US$50,2 miliar yang berarti surplus di atas US$11,3 miliar. Sedangkan untuk komoditi non migas sebesar US$ 3,92 miliar dan surplusnya pada 2023 sangat besar yakni US$78 miliar.

“Saya pikir itu salah satu yang kita dorong dan akan kita bahas di forum ini. Terpenting semua meningkat, mayoritas surplus,” ucap dia.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rahmi Yati
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper