Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bahan Baterai Mobil Listrik, RI Bidik Produksi Kobalt 20.000 Ton di 2023

Indonesia memproyeksikan produksi kobalt, bahan baku baterai mobil listrik dapat menyentuh di kisaran 15.000-20.000 ton di 2023.
Perakitan baterai untuk mobil listrik/ Bloomberg
Perakitan baterai untuk mobil listrik/ Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) memproyeksikan produksi kobalt domestik dapat menyentuh di kisaran 15.000 ton hingga 20.000 ton hingga akhir 2023.

Deputi Bidang Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves, Septian Hario Seto, mengatakan melonjaknya produksi bahan baku mentahan untuk baterai kendaraan listrik itu didorong oleh masifnya kapasitas olahan pabrik High Pressure Acid Leaching (HPAL) selama dua tahun terakhir.

“Bisa mendekati 15.000 ton sampai 20.000 ton ya estimasi kita untuk [produksi] kobalt tahun ini,” kata Seto kepada Bisnis, Jumat (10/2/2023).

Seto menambahkan, pertumbuhan produksi kobalt Indonesia bakal lebih tinggi jika dibandingkan dengan potensi yang dimiliki Kongo saat ini. Dia memastikan produksi kobalt domestik akan melampaui torehan Kongo dalam jangka waktu 2-3 tahun ke depan.

“Menurut saya dua tiga tahun ke depan produksi kobalt kita harus lebih tinggi dari Kongo ya,” ujarnya.

Kendati demikian, dia mengatakan, pemerintah tengah mempercepat investasi baru pada lini pengolahan turunan nikel kadar rendah atau limonit.

Alasannya, Indonesia belum memiliki keahlian serta pabrik untuk mengolah lebih lanjut produk turunan dari mixed hydroxide precipitate (MHP), nikel sulfat dan kobalt menjadi prekursor dan katoda baterai listrik saat ini.

Dia mengungkapkan, perusahaan asal Eropa yang bergerak di bidang chemical tengah memetakan lokasi strategis untuk membangun pabrik prekursor baterai kendaraan listrik di Indonesia tahun ini.

Dia menuturkan perusahaan itu telah berkomitmen mengucurkan investasi ratusan juta dolar AS untuk membangun pabrik prekursor baterai kendaraan listrik tersebut. Rencanannya, pabrik itu dapat beroperasi komersial pada 2025.

“Kalau soal prekursor nggak lama sih kita akan punya itu karena dari Eropa satu investor sedang bikin di sini,” ungkapnya.

Seperti diketahui, produksi kobalt di Indonesia diperkirakan sudah mencapai 10.000 ton sepanjang 2022. Laporan itu diterbitkan Badan Survei Geologi Amerika Serikat atau United States Geological Survey (USGS) pada periode Januari 2023. 

Torehan itu naik 270,37 persen dari pencatatan sepanjang 2021 di level 2.700 ton. Peningkatan produksi kobalt itu menempatkan Indonesia berada di urutan kedua sebagai produsen mineral logam strategis tersebut setelah Kongo. 

Sepanjang 2021, Kongo memproduksi kobalt sebanyak 119.000 ton yang sebagian besar diekspor untuk pembeli di China. Selanjutnya pada 2022, produksi kobalt Kongo menyentuh di angka 130.000 ton. 

Di sisi lain, rekapitulasi sumber daya dan cadangan mineral logam semester I/2022 dari Badan Geologi Kementerian ESDM mengidentifikasi bijih kobalt terkira di Indonesia mencapai 449,08 juta ton. Sementara itu, cadangan terkira untuk logam kobalt ditaksir sebesar 231.768 ton. 

Adapun, cadangan terbukti untuk bijih kobalt diidentifikasi mencapai 242,02 juta dengan kandungan logam di kisaran 258.746 ton.

Sementara itu sebagian besar produk turunan nikel kadar rendah masih diekspor lantaran belum terbentuknya industri lanjutan di sisi hilir. 

Berdasarkan catatan Kementerian Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), torehan ekspor produk turunan bijih nikel telah menyentuh di angka US$33,81 miliar atau setara dengan Rp506,13 triliun, asumsi kurs Rp14.970 sepanjang 2022. 

Ekspor nikel matte sepanjang tahun lalu sudah menembus di angka US$3,74 miliar atau setara dengan Rp56,34 triliun. Sementara itu, nilai ekspor MHP berhasil mencapai US$2,19 miliar atau setara dengan Rp32,78 triliun. 

Adapun produksi nikel matte dan MHP domestik itu secara keseluruhan dijual ke pasar China dengan nilai mencapai US$3,68 miliar atau setara dengan Rp55,08 triliun.

Sisanya, penjualan nikel matte dan MHP dilakukan untuk sejumlah pembeli potensial dari Jepang, Korea Selatan hingga Norwegia dengan total pembelian di kisaran US$1,91 miliar atau setara dengan Rp28,59 triliun.

CEO Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Alexander Barus, mengatakan situasi itu terjadi lantaran belum siapnya industri anoda domestik untuk melanjutkan serapan turunan dari mix hydroxide precipitate (MHP) seperti nikel sulfat (NiSO4) dan Cobalt Sulfat (CoSO4). 

“MHP kita masih ekspor karena kita belum olah di dalam negeri sampai ke sulfat ke packing menjadi sel, itu masih tahap satu setelah bijih nikel, karena siapa yang mau beli,” kata Alex saat ditemui di Jakarta Convention Center, Rabu (12/10/2022).

Dengan demikian, Alex menegaskan, nilai tambah dari kegiatan hilirisasi tambang nikel di Morowali sebagian besar justru terjadi di luar negeri. Dia meminta pemerintah untuk segera menggalakan pembangunan industri perantara hingga hilir untuk menyerap limpahan nikel hasil pemurnian tersebut.

“Sekarang kita produksi prekursor dan katoda tapi di dalam negeri tidak ada industri anodanya tetap saja harus ekspor, proses hilirisasi harus disambung dengan industri, baru nilai tambah kita dapatkan,” ungkapnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper