Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Anak Buah Luhut Binsar: Dulu Mindset Ekonomi RI Itu Ayam dan Monyet

Pejabat Kemenko Marves atau anak buah Luhut Binsar Pandjaitan mengungkap mindset ekonomi Indonesia zaman dulu. Apa itu?
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 07 Desember 2022  |  11:59 WIB
Anak Buah Luhut Binsar: Dulu Mindset Ekonomi RI Itu Ayam dan Monyet
Shanghai Decent Investment (Group) Co., Ltd. bekerja sama dengan PT Bintang Delapan Investama mendirikan PT Sulawesi Mining Investment (SMI) di Indonesia pada 2009, dan mulai melakukan pengembangan terhadap tambang nikel seluas hampir 47.000 hektar di Kabupaten Morowali. - imip
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Salah satu pejabat Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), yang dipimpin Luhut Binsar Pandjaitan, mengibaratkan pola pikir Indonesia dalam mengelola perekonomian seperti ayam dan monyet. Mengapa?

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves Septian Hario Seto menyampaikanpemerintah saat ini terus mendorong hilirisasi untuk memberikan nilai tambah bagi perekonomian IndonesiaPemikiran tersebut cukup berbeda jika dibandingkan sebelumnya. Seto mengasosiasikan, pola pikir Indonesia dulunya seperti ekonomi ayam.

“Kenapa sih ekonomi ayam? Karena ayam itu kalau cari makan dia gali-gali terus dia makan. Sama kayak kita. Kita nambang, gali-gali, ekspor,” kata Seto dalam Forum Kemitraan Investasi di Hotel Four Seasons, Jakarta, Rabu (7/12/2022).

Tak hanya ekonomi ayam, Seto juga mengasosiasikannya dengan ekonomi monyet. 

Lebih lanjut dia mengatakan saat ini pola pikir tersebut sudah berubah. Indonesia kini mulai mengolah sumber daya alamnya menjadi sesuatu yang bernilai tambah tinggi sehingga berdampak signifikan terhadap perekonomian domestik.

“Kenapa? Monyet kan petik langsung dimakan, petik langsung dimakan,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, pemerintah resmi memberlakukan pelarangan ekspor bijih nikel sejak 2020 lalu. Aturan tersebut ditetapkan melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 11/2019. 

Adapun hilirisasi nikel menjadi besi baja telah berkontribusi signifikan terhadap peningkatan ekspor. Hingga Oktober 2022, kontribusi ekspor nikel tercatat sudah mencapai US$28,3 miliar dan diperkirakan dapat mencapai US$33 miliar pada akhir 2022.

Kedepannya, pemerintah juga berencana untuk menerapkan kebijakan serupa terhadap sumber daya alam mineral lainnya.

“Jadi ini sesuatu yang sangat signifikan,” tutur Seto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Luhut Pandjaitan ekonomi indonesia hilirisasi
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

back to top To top