Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Anak Buah Luhut Binsar: Dulu Mindset Ekonomi RI Itu Ayam dan Monyet

Pejabat Kemenko Marves atau anak buah Luhut Binsar Pandjaitan mengungkap mindset ekonomi Indonesia zaman dulu. Apa itu?
Shanghai Decent Investment (Group) Co., Ltd. bekerja sama dengan PT Bintang Delapan Investama mendirikan PT Sulawesi Mining Investment (SMI) di Indonesia pada 2009, dan mulai melakukan pengembangan terhadap tambang nikel seluas hampir 47.000 hektar di Kabupaten Morowali. /imip
Shanghai Decent Investment (Group) Co., Ltd. bekerja sama dengan PT Bintang Delapan Investama mendirikan PT Sulawesi Mining Investment (SMI) di Indonesia pada 2009, dan mulai melakukan pengembangan terhadap tambang nikel seluas hampir 47.000 hektar di Kabupaten Morowali. /imip

Bisnis.com, JAKARTA - Salah satu pejabat Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), yang dipimpin Luhut Binsar Pandjaitan, mengibaratkan pola pikir Indonesia dalam mengelola perekonomian seperti ayam dan monyet. Mengapa?

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves Septian Hario Seto menyampaikanpemerintah saat ini terus mendorong hilirisasi untuk memberikan nilai tambah bagi perekonomian IndonesiaPemikiran tersebut cukup berbeda jika dibandingkan sebelumnya. Seto mengasosiasikan, pola pikir Indonesia dulunya seperti ekonomi ayam.

“Kenapa sih ekonomi ayam? Karena ayam itu kalau cari makan dia gali-gali terus dia makan. Sama kayak kita. Kita nambang, gali-gali, ekspor,” kata Seto dalam Forum Kemitraan Investasi di Hotel Four Seasons, Jakarta, Rabu (7/12/2022).

Tak hanya ekonomi ayam, Seto juga mengasosiasikannya dengan ekonomi monyet. 

Lebih lanjut dia mengatakan saat ini pola pikir tersebut sudah berubah. Indonesia kini mulai mengolah sumber daya alamnya menjadi sesuatu yang bernilai tambah tinggi sehingga berdampak signifikan terhadap perekonomian domestik.

“Kenapa? Monyet kan petik langsung dimakan, petik langsung dimakan,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, pemerintah resmi memberlakukan pelarangan ekspor bijih nikel sejak 2020 lalu. Aturan tersebut ditetapkan melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 11/2019. 

Adapun hilirisasi nikel menjadi besi baja telah berkontribusi signifikan terhadap peningkatan ekspor. Hingga Oktober 2022, kontribusi ekspor nikel tercatat sudah mencapai US$28,3 miliar dan diperkirakan dapat mencapai US$33 miliar pada akhir 2022.

Kedepannya, pemerintah juga berencana untuk menerapkan kebijakan serupa terhadap sumber daya alam mineral lainnya.

“Jadi ini sesuatu yang sangat signifikan,” tutur Seto.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper