Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Suku Bunga Global Kompak Naik, Sri Mulyani Ingatkan Risiko Resesi 2023

Kondisi inflasi yang tinggi dan kenaikan suku bunga yang lebih tinggi di tingkat global, risiko resesi ekonomi menjadi tidak terhindarkan.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 26 September 2022  |  21:05 WIB
Suku Bunga Global Kompak Naik, Sri Mulyani Ingatkan Risiko Resesi 2023
Menteri Keuangan Sri Mulyani di Kompleks Parlemen, Rabu (31/8/2022). - Bisnis/Wibi Pangestu Pratama
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Tekanan inflasi yang tinggi dan diperkirakan masih terus berlangsung ke depan mendorong pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral di banyak negara.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa dengan kondisi inflasi yang tinggi dan disertai dengan kenaikan suku bunga yang lebih tinggi di tingkat global, risiko resesi ekonomi menjadi tidak terhindarkan.

Dia menyampaikan inflasi terutama di negara maju saat ini masih mengalami peningkatan yang tinggi. Inggris misalnya, tingkat inflasi telah mencapai 9,9 persen dan diperkirakan meningkat hingga ke level dua digit. 

Selain itu, tingkat inflasi di Eropa telah mencapai 9,1 persen, tetapi masih berpotensi meningkat mengingat negara di Eropa akan memasuki musim dingin sehingga membutuhkan pasokan energi yang lebih tinggi yang saat ini pasokan masih terkendala akibat perang.

Inflasi di Amerika Serikat (AS) telah melandai ke level 8,3 persen pada Agustus 2022, tetapi masih berada pada level yang tinggi. Hal ini tercermin dari langkah the Fed yang kembali menaikkan suku bunga secara agresif pada September ini, yaitu sebesar 75 basis poin.

“Suku bunga Inggris di level 2,25 persen, naik 200 basis poin [bps] selama 2022, AS sudah 3,25 persen, naik 300 bps, terutama karena FOMC pada September ini the Fed menaikkan lagi 75 bps. 

Tren kenaikan suku bunga Eropa sebesar 125 bps, ini kenaikan yang sangat ekstrem,” katanya dalam konferensi pers APBN Kita, Senin (26/9/2022).

Sri Mulyani mengatakan tren yang terjadi tersebut tentunya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Seperti perkiraan Bank Dunia sebelumnya, jika bank sentral di seluruh dunia melakukan peningkatan suku bunga secara ekstrem dan bersama-sama maka dunia pasti mengalami resesi pada 2023.

“Inilah yang sedang terjadi, yaitu kenaikan suku bunga oleh bank sentra,, terutama di negara maju secara cukup cepat dan ekstrem dan itu akan memukul pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut,” jelasnya.

Oleh karena itu, imbuhnya, kinerja perekonomian dunia yang mengalami pelemahan akibat inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga perlu diantisipasi.

Pelemahan aktivitas ekonomi pun saat ini mulai terlihat, yang tercermin dari PMI manufaktur global yang melambat ke 50,3 pada Agustus 2022, terendah dalam 26 bulan terakhir.

Pada negara G20 dan Asean-6, 24 persen negara diantaranya masih mencatatkan PMI yang meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Negara tersebut termasuk Indonesia, Thailand, Filipina, Rusia, Vietnam, dan Arab Saudi.

Lebih lanjut, sebanyak 32 persen negara diantaranya mengalami perlambatan kinerja manufaktur, diantaranya AS, Jepang, India, Malaysia, Brazil, Australia, Singapura, dan Afrika Selatan. 

Sementara itu, 40 persen negara diantaranya mencatatkan kontraksi, yaitu Eropa Jerman, Italia, Inggris, China, Korea Selatan, Meksiko, Spanyol, dan Turki.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Suku Bunga Resesi Inflasi sri mulyani
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top