Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Prospek Pertumbuhan China Sangat Berisiko

Pertumbuhan ekonomi China yang menunjukkan kekuatan rebound dengan cepat menguap ketika pemerintah memperketat mobilitas untuk menurunkan Covid-19.
Asahi Asry Larasati
Asahi Asry Larasati - Bisnis.com 23 September 2022  |  13:18 WIB
Prospek Pertumbuhan China Sangat Berisiko
Stasiun kereta api bawah tanah (subway) Tuanjiehu, Beijing, China, Minggu (1/5/2022), lengang saat diberlakukan penguncian wilayah (lockdown) secara parsial menyusul munculnya 259 kasus positif baru Covid-19 sejak 22 April 2022. 'Lockdown' diberlakukan bersamaan dengan musim liburan Hari Buruh pada 1-4 Mei 2022. - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom semakin pesimis lantaran prospek ekonomi China tahun depan diperkirakan masih akan tenggelam di bawah strategi Covid zero yang diterapkan pemerintah di negara tersebut. 

Nomura Holdings Inc sudah memangkas pertumbuhan produk domestik bruto tahun 2023 untuk China menjadi 4,3 persen dari 5,1 persen. Kemudian, Goldman Sachs Group Inc. menurunkan prospeknya awal pekan ini menjadi 4,5 persen dari 5,3 persen, dilanjutkan Societe Generale SA memperkirakan pertumbuhan akan di bawah 5 persen tahun depan.

Dilansir dari Bloomberg pada Jumat (23/9/2022) dalam sebuah survei ekonom terbaru untuk PDB tumbuh 5,1 persen pada tahun 2023, jadi turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,2 persen, sehingga konsensus untuk tahun ini juga diturunkan, menjadi 3,4 persen dari 3,5 persen.

Pola pertumbuhan China yang bergejolak tahun ini telah menunjukkan kekuatan rebound dapat dengan cepat menguap ketika pemerintah memperketat pembatasan untuk menahan Covid-19, dengan mengunci kota-kota besar seperti yang terjadi di Shanghai dan Chengdu.

Sementara itu jika pemerintah melonggarkan kebijakan Covid, berdasakan perkiraan beberapa ekonom akan terjadi setelah Maret tahun depan, kemungkinan lonjakan infeksi bisa mengganggu aktivitas ekonomi untuk beberapa waktu.

Terpisah, ekonom Nomura Ting Lu menilai prospek tahun depan tampaknya luar biasa tidak jelas.

"Jika pemerintah memilih untuk membuka kembali setelah Maret, tingkat infeksi yang berpotensi tinggi mungkin membuat pembukaan kembali awal cukup lambat, menyakitkan dan bergelombang," jelasnya.

Goldman juga memperkirakan Beijing akan tetap berpegang pada kebijakan Covid zero, setidaknya sampai kuartal I/2023.

Dengan pertimbangan pandemi Covid-19, pasar real estate negara terancam menjadi hambatan utama pada pertumbuhan, terlepas dari langkah-langkah dukungan pemerintah baru-baru ini.

Bahkan, ledakan ekspor selama beberapa tahun terakhir mulai berkurang, ancaman arus keluar modal meningkat karena Federal Reserve AS menaikkan suku bunga secara agresif, sehingga pasokan energi global berisiko terdampak perang Rusia-Ukraina.

Ekonom senior di AXA Investment Managers Aidan Yao mengungkapkan, perkembangan terbaru menunjukkan momentum pertumbuhan telah goyah lagi sejak September di tengah memburuknya situasi Covid-19.

"Beijing masih enggan untuk melonggarkan secara agresif, sekalipun kami telah menurunkan perkiraan untuk sisa dua kuartal tahun ini, meninggalkan pertumbuhan setahun penuh sekarang di 3 persen, turun dari 3,6 persen sebelumnya," katanya.

Selain itu, survei lainnya menunjukan inflasi setahun penuh diperkirakan tidak berubah pada 2,3 persen untuk 2022 dan 2023, sehingga pertumbuhan harga produsen diperkirakan akan melambat lebih jauh ke 5 persen tahun ini, sebelum berkurang menjadi 0,8 persen tahun depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china Covid-19 ekonomi global
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top