Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Biang Kerok Industri Tambang Batal Cuan saat Harga Emas Tinggi

Industri tambang dinilai berisiko batal cuan saat momentum harga emas tinggi.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 27 Juni 2022  |  19:14 WIB
Ini Biang Kerok Industri Tambang Batal Cuan saat Harga Emas Tinggi
Tambang emas Toka Tindung merupakan salah satu tambang emas terbesar yang memiliki 2 Kontrak Karya yang dimiliki oleh anak usaha Archi Indonesia - Dok.Perusahaan

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesian Mining Association (IMA) melaporkan momentum kenaikan harga emas di pasar dunia tidak berdampak signifikan terhadap cuan perusahaan tambang di dalam negeri. Selain cadangan emas yang relatif kecil, instrumen pendanaan dari perbankan ditengarai tidak mendukung upaya peningkatan produksi industri tambang di dalam negeri.

Pelaksana Harian Direktur Eksekutif IMA Djoko Widajatno mengatakan sebagian besar perusahaan tambang yang mengambil pinjaman dari perbankan lewat instrumen lindung nilai atau hedging dipastikan tidak mendapatkan keuntungan dengan harga komoditas mineral itu yang belakangan menguat di pasar internasional.

“Beberapa kawan bilang hedgingnya US$1.350 per ons troi, mana ada kelebihan buat kita setinggi apapun harga emas di internasional yang untung banknya, banyak perusahaan yang ambil uang keras itu lalu dibayar dengan hasil yang diperoleh, yang diterima US$1.1350 per ons, sisanya bayar utang,” kata Djoko saat dihubungi Senin (27/6/2022).

Artinya, kata dia, perusahaan tambang emas relatif tidak memiliki dana yang besar untuk melakukan eksplorasi di tengah momen kenaikan harga di tingkat internasional. Alasannya instrumen hedging itu lebih dahulu mematok pendapatan perusahaan terkait secara datar tanpa memperhatikan fluktuasi harga pasar dunia.

Sementara itu, biaya eksplorasi tambang emas yang belakangan mulai bergeser pada tambah bawah relatif mahal jika dibandingkan dengan tambang terbuka. Di sisi lain, biaya operasional terkait dengan kelistrikan dan pengangkutan dari tambang bawah turut menjadi beban yang serius bagi upaya peningkatan produksi emas beberapa waktu terakhir.

“Jadi untuk pembangunan tambang di bawah tanah ini capital intensive, jumlahnya juga kecil karena ruang geraknya sempit kan, mau dinaikkan teknologi kita belum mampu beli sementara yang punya Freeport masih pengembangan,” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, harga emas bergerak menguat pada awal perdagangan Senin (27/6/2022) setelah Amerika Serikat (AS), Inggris, Jepang, dan Kanada berencana mengumumkan larangan impor emas dari Rusia dalam KTT G7 di Jerman.

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas berjangka Comex untuk kontrak Agustus 2022 terpantau menguat 0,21 persen atau 3,8 poin ke level US$1.834,10 per troy ounce pada pukul 06.48 WIB. Sementara itu, harga emas di pasar spot terpantau menguat 0,23 persen atau 4,15 poin ke level US$1.831,03 per troy ounce pada pukul 06.59 WIB.

Dalam sebuah pernyataan oleh Pemerintah Inggris, tindakan ini akan memiliki dampak secara global sehingga menghalangi celah bagi Presiden Rusia Vladimir Putin meraih dana. Pengiriman emas antara Rusia dan London merosot menjadi hampir nol sejak negara-negara Barat memberlakukan sanksi terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina.

“Keputusan ini merupakan tindakan formal yang melanjutkan apa yang telah dilakukan industri emas,” kata kepala penelitian broker BullionVault Adrian Ash, dikutip Bloomberg, Senin (27/6/2022).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emas tambang
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top